Archive for the ‘Televisi’ Category
Namaku Gatotkaca
Saksikan Kamis 1 Oktober 2009 jam 19.00 di Trans TV
Pemain : Rifky Balweel, Masayu Clara, Malvino Fajaro, Torro Margens, Aditia Setianto, Erlin Sarintan, Siswanto, Rudi Sipit, Bio One
Ide Cerita : Reka Wijaya
Penulis Skenario : Reka Wijaya & Baihaqi Achmad
Sutradara : Reka Wijaya
Obiet!

Di blog saya yang lalu, saya pernah menulis kalau saya suka sekali dengan tayangan Idola Cilik yang ditayangkan RCTI. Naaah, kalau di IC pertama saya mendukung Sivia yang cantik dan bersuara bagus itu, kali ini saya sangat mendukung Obiet.
Dari awal penampilan siswa kelas 5 SD ini, saya langsung suka.
Waktu audisi dia menyanyikan lagu Terimakasih Cinta -Afgan dengan improvisasi yang jempolan. Dan kemudian melaju ke pentas idola cilik dengan berbagai macam lagu yang dinyanyikan dengan sangat baik, khas Obiet yang jago improvisasi. Pembawaannya yang tenang dan santun juga memberikan nilai plus untuk putra Temanggung ini. Terlebih lagi, kebetulan Obiet tidak mengekspos cerita kehidupannya untuk menarik simpati seperti beberapa kontestan lainnya. Sayangnya, walau penampilannya selalu bagus, SMS dukungan untuk Obiet seringkali berada di deret bawah, semoga nantinya Obiet bisa terus melaju dan menjadi juara Idola Cilik 2. Kalo gak ada Obiet gak akan rame deh Idola Cilik 2 hehe
penampilan Obiet minggu lalu, menyanyikan lagu Aku Pasti Kembali -Pasto
Terlalu pintar untuk menonton Sinetron
Sebagaimana kita tahu, persaingan dunia televisi Indonesia sudah sampai di taraf yang buat saya tidak sehat. Masing-masing dari stasiun televisi berlomba-lomba menjaring penonton terbanyak di saat prime time dengan program unggulan berupa sineton strippin. Entah kapan dimulainya, kini dua stasiun televisi yang paling getol memutar sinetron strippin tiap malam seperti punya jadwal permanen untuk memutar program unggulannya itu. Mulai dari jam enam sore hingga tengah malam.
RCTI memulainya dengan memutar Aqso & Madina (sinetron Ramadhan yang gak habis-habis padahal Ramadhan udah selesai hampir sebulan), Cinta SMA (yang mengekspos kelucuan seorang Baim, harusnya judulnya Cinta Baim, bukan Cinta SMA), Khanza (yang makin gak jelas aja) dan ditutup dengan Yasmin (sinetron favorit Ibu saya karena menampilkan Nabilla Syakieb & Richard Kevin)
SCTV melawan RCTI dengan memutar Cinta Intan, Karissa dan Melati Untuk Marvell (ketiga sinetron ini gak pernah saya tonton sama sekali)
Selama lebih kurang 4 jam -bahkan kadang lebih, masyarakat Indonesia (khususnya Ibu-Ibu) dicekcoki drama mendayu-dayu dan menguras air mata ala sinetron Indonesia, yang tentunya semua serba dilebih-lebihkan, tidak wajar.
Jujur aja. Dulu waktu kecil saya adalah penikmat sinetron. Saat saya SD setelah nonton Dunia Dalam Berita, dilanjutkan Tuyul & Mbak Yul atau Jin dan Jun, saya akan melanjutkan menonton televisi untuk menyaksikan sinetron-sinetron, judul-judul yang masih saya ingat antara lain : Cinta, Jangan Ucapkan Cinta, Panji Manusia MIllenium, Tersanjung, Tersayang (inget kan dulu topi tersayang happening banget?), Terpikat, Terpesona, Noktah Merah Perkawinan, Dewi Fortuna, Waah Cantiknya, Si Doel Anak Sekolah, Keluarga Cemara dan lain-lainnya.
Ya. masa kecil saya terisi dengan mengikuti sinetron-sinetron di atas, tapi buat saya dulu sinetron adalah tontonan yang masih dapat dibilang menyenangkan, masih bisa menghibur dan membuat penasaran dengan jalinan ceritanya yang tidak terlalu didramatisir. Lebih dari itu, dulu sinetron tayangnya seminggu sekali, jadi ada jeda waktu yang membuat kita penasaran untuk mengikuti lanjutan ceritanya, tidak seperti sekarang yang tayangnya tiap hari dan jatohnya malah membuat bosan.
Dan lagi, sinetron-sinetron dulu diisi oleh pemain-pemain hebat dengan akting yang maksimal, sebut saja Dessy Ratnasari, Ari Wibowo, Maudy Koesnaydi, Paramitha Rusadi, Anjasmara, Jihan Fahira, dll. Sekarang? Artis-artis karbitan gak penting menghiasi layar televisi. Muka-muka baru dengan kemampuan akting yang tidak bagus bermunculan tiap hari. Yang penting cantik/ganteng, kualitas dinomerduakan. Miris.
Dan yang membuat sinetron sekarang semakin menyebalkan adalah jalan ceritanya yang sangat mudah tertebak, bertele-tele, terlalu didramatisir dan cenderung tidak masuk akal. Kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat sulit terjadi di dalam sinetron. Penderitaan dan air mata adalah syarat mutlak sebuah sinetron, saat ini.
Maka itu ketika semalam menemani Ibu saya menonton Yasmin dan ada adegan dimana Yasmin dan Alvino menikah saya langsung nyeletuk : “Palingan gak akan lama bahagianya, paling nanti ada yang kecelakaan, dianggap mati trus tiba-tiba entah kapan muncul lagi karena ternyata dia gak mati.” Sebuah standar sinetron Indonesia banget kan? Dianggap meninggal tapi tiba-tiba blasssst! di episode ke sekian dia datang lagi karena ternyata dia tidak mati, cuma mengalami luka-luka, dirawat seseorang di desa yang ternyata mencintainya -ooooooh dramatis sekali
Dulu sineton adalah hiburan.
Sekarang sinetron adalah pembodohan. Dan saya merasa terlalu pintar untuk menonton sinetron. Kalo saya udah tau ceritanya akan seperti apa buat apa masih ditonton? Matikan televisi, atau ganti channel. Habis perkara.
Gossip Girl
Saya memang selalu telat untuk mengikuti perkembangan serial televisi. Waktu heboh-hebohnya Grey’s Anatomy saya kalem-kalem aja dan baru mulai serius nonton ketika GA sudah memasuki season ketiga. Dan sekarang saat Gossip Girl sudah memasuki season kedua, saya baru selesai menonton season pertamanya, sekitar minggu lalu.
Awalnya saya memang males nonton. Melihat sedikit gambarannya saya lihat serial ini cewek banget, males banget deh ngikutin serial yang isinya girl stuff gak penting. Tapi ternyata tidak segitu buruknya kok. Episode perdananya bahkan sudah bisa menarik perhatian saya karena karakter-karakter yang ada begitu hidup dan pas dimainkan oleh deretan pemainnya.
Dari segi cerita sebenarnya kurang menarik ya, di televisi Indonesia cerita macam begini juga bisa kita dapatkan, persaingan geng untuk mendapatkan popularitas, pencarian jati diri para remaja, permasalahan dengan orang tua, masalah cinta segitiga, hampir semua masalah yang diangkat di GG adalah masalah umum yang sudah sering dibahas, bahkan sudah menjadi makanan sehari masyarakat Indonesia lewat deretan sinetron strippin yang tayang di layar kaca.
Tapi apa yang membuat GG berbeda dan sukses menarik perhatian jutaan remaja dunia? Satu pasti sisi fashion-nya. Melihat baju-baju bagus, seragam sekolah yang begitu trendy pasti menimbulkan efek ‘menyenangkan’ untuk mata, terlebih untuk para cewek. Lewat GG mungkin tidak sedikit penontonnya yang terinspirasi dengan fashion di serial ini. Kedua kehidupan glamour para tokoh-tokohnya. Melihat gemerlapnya Blair Warldorf dan Serena van der Woodsen pasti merupakan sebuah tontonan yang menyenangkan. Gemerlapnya kehidupan mereka serta segala macam paket kemewahan yang ditawarkan di GG merupakan sebuah kelebihan tersendiri yang menjadi daya tarik.
Saya pribadi paling menyukai bagian cerita mengenai keluarga Humprey. Keluarga Humprey yang tidak gemerlap, yang biasa-biasa saja tapi terlihat begitu penuh kasih, terlebih tokoh Rufus yang tampil sebagai sosok ayah yang begitu menyayangi Dan dan Jenny. Cerita cinta Rufus dan Lilly juga menarik untuk disimak, lebih menantang dan ‘dalem’ dibandingkan kisah percintaan tokoh yang lain.
Leighton Meester cantik banget! Cute, lucu dan menggemaskan! Muka judesnya membuat saya betah berlama-lama melihatnya, lucu banget! Saya jatuh cinta dengan dia hehe.

