
Sebagaimana kita tahu, persaingan dunia televisi Indonesia sudah sampai di taraf yang buat saya tidak sehat. Masing-masing dari stasiun televisi berlomba-lomba menjaring penonton terbanyak di saat prime time dengan program unggulan berupa sineton strippin. Entah kapan dimulainya, kini dua stasiun televisi yang paling getol memutar sinetron strippin tiap malam seperti punya jadwal permanen untuk memutar program unggulannya itu. Mulai dari jam enam sore hingga tengah malam.
RCTI memulainya dengan memutar Aqso & Madina (sinetron Ramadhan yang gak habis-habis padahal Ramadhan udah selesai hampir sebulan), Cinta SMA (yang mengekspos kelucuan seorang Baim, harusnya judulnya Cinta Baim, bukan Cinta SMA), Khanza (yang makin gak jelas aja) dan ditutup dengan Yasmin (sinetron favorit Ibu saya karena menampilkan Nabilla Syakieb & Richard Kevin)
SCTV melawan RCTI dengan memutar Cinta Intan, Karissa dan Melati Untuk Marvell (ketiga sinetron ini gak pernah saya tonton sama sekali)
Selama lebih kurang 4 jam -bahkan kadang lebih, masyarakat Indonesia (khususnya Ibu-Ibu) dicekcoki drama mendayu-dayu dan menguras air mata ala sinetron Indonesia, yang tentunya semua serba dilebih-lebihkan, tidak wajar.
Jujur aja. Dulu waktu kecil saya adalah penikmat sinetron. Saat saya SD setelah nonton Dunia Dalam Berita, dilanjutkan Tuyul & Mbak Yul atau Jin dan Jun, saya akan melanjutkan menonton televisi untuk menyaksikan sinetron-sinetron, judul-judul yang masih saya ingat antara lain : Cinta, Jangan Ucapkan Cinta, Panji Manusia MIllenium, Tersanjung, Tersayang (inget kan dulu topi tersayang happening banget?), Terpikat, Terpesona, Noktah Merah Perkawinan, Dewi Fortuna, Waah Cantiknya, Si Doel Anak Sekolah, Keluarga Cemara dan lain-lainnya.
Ya. masa kecil saya terisi dengan mengikuti sinetron-sinetron di atas, tapi buat saya dulu sinetron adalah tontonan yang masih dapat dibilang menyenangkan, masih bisa menghibur dan membuat penasaran dengan jalinan ceritanya yang tidak terlalu didramatisir. Lebih dari itu, dulu sinetron tayangnya seminggu sekali, jadi ada jeda waktu yang membuat kita penasaran untuk mengikuti lanjutan ceritanya, tidak seperti sekarang yang tayangnya tiap hari dan jatohnya malah membuat bosan.
Dan lagi, sinetron-sinetron dulu diisi oleh pemain-pemain hebat dengan akting yang maksimal, sebut saja Dessy Ratnasari, Ari Wibowo, Maudy Koesnaydi, Paramitha Rusadi, Anjasmara, Jihan Fahira, dll. Sekarang? Artis-artis karbitan gak penting menghiasi layar televisi. Muka-muka baru dengan kemampuan akting yang tidak bagus bermunculan tiap hari. Yang penting cantik/ganteng, kualitas dinomerduakan. Miris.
Dan yang membuat sinetron sekarang semakin menyebalkan adalah jalan ceritanya yang sangat mudah tertebak, bertele-tele, terlalu didramatisir dan cenderung tidak masuk akal. Kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat sulit terjadi di dalam sinetron. Penderitaan dan air mata adalah syarat mutlak sebuah sinetron, saat ini.
Maka itu ketika semalam menemani Ibu saya menonton Yasmin dan ada adegan dimana Yasmin dan Alvino menikah saya langsung nyeletuk : “Palingan gak akan lama bahagianya, paling nanti ada yang kecelakaan, dianggap mati trus tiba-tiba entah kapan muncul lagi karena ternyata dia gak mati.” Sebuah standar sinetron Indonesia banget kan? Dianggap meninggal tapi tiba-tiba blasssst! di episode ke sekian dia datang lagi karena ternyata dia tidak mati, cuma mengalami luka-luka, dirawat seseorang di desa yang ternyata mencintainya -ooooooh dramatis sekali
Dulu sineton adalah hiburan.
Sekarang sinetron adalah pembodohan. Dan saya merasa terlalu pintar untuk menonton sinetron. Kalo saya udah tau ceritanya akan seperti apa buat apa masih ditonton? Matikan televisi, atau ganti channel. Habis perkara.