Archive for the ‘Satu Kata’ Category
Tua
Ada yang bilang ‘Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.’ Rasanya pernyataan itu memang sangat tepat. Sebagai manusia yang mengalami siklus kehidupan, kita akan terus tumbuh dan berkembang, dan perkembangan itu pada akhirnya akan menuju ke sebuah fase dimana kita akan menjadi tua –insya Allah kalau diberikan umur panjang.
Di samping rumah saya, ada seorang Nenek, orang-orang biasa menyebutnya Nek Haji. Seorang Nenek yang sudah cukup tua, usianya sekitar 70 tahun dan fisiknya memang terlihat renta. Beberapa tahun ini Nek Haji yang dulu segar, bisa diajak mengobrol dan menyenangkan berubah menjadi sosok yang terlihat lemah, pelupa, gak nyambung ketika diajak ngobrol dan menyebalkan karena (entah kenapa) selalu saja merepotkan siapa saja.
Nek Haji adalah seorang Janda tanpa anak. Dan dia hidup/dirawat oleh saudaranya –yang sudah seperti cucunya, yang kebetulan rumahnya juga dekat. Salah satu cucunya ini tinggal bersama Nek Haji dan ikut merawatnya. Saya, sebagai seseorang yang setiap hari bertemu beliau seringkali ikut kecipratan berbagai kerepotan yang berhubungan dengan Nek Haji. Jadi, belakangan ini Nek Haji hobi sekali minta maaf, katanya ia merasa seperti sedang dikejar-kejar (entah oleh apa) dan hal itu membuatnya takut. Nek Haji juga menjadi sangat pelupa, ia lupa cucunya dan menganggapnya sebagai suaminya (yang sudah lama meninggal), ia lupa nama orang, ia lupa jadwal makan, ia lupa banyak hal. Nek Haji menjadi rese’, sering ngoceh sendirian, mengomeli orang yang sebenarnya tidak salah dan aneka macam hal lainnya. Kata Ayah saya, Nek Haji menjadi bersikap seperti ini karena dipengaruhi oleh satu hal : ia merasa sendirian.
Menyeramkan?
Saya takut dan tidak ingin masa tua saya seperti Nek Haji. Sendirian, dihantui rasa takut, menjadi sosok yang terlihat menyebalkan di mata orang lain, dan tidak punya siapa-siapa untuk bersandar. Gak enak banget kan pasti? Menyedihkan sekali rasanya jika harus menjalani fase tua dengan cara seperti itu.
Masa tua idaman saya adalah hidup bahagia, melihat kesuksesan anak dan cucu saya, dikelilingi orang-orang yang saya kasihi dan pada akhirnya meninggal dalam keadaan bahagia. Bukankah itu semua terdengar sangat indah? Tapi bagaimana jika nanti masa tua saya akan seperti Nek Haji? Ooooh No, saya gak mau seperti itu.
Miris rasanya melihat Nek Haji, dan lebih miris lagi ketika saya menyadari bahwa saya kerap kali kesal kalau Nek Haji sudah ‘kumat’ dan nyebelin. Ya tapi gimana dong? Saudara Nek Haji aja sudah pusing dan sering angkat tangan, apalagi saya yang cuma tetangganya? Tapi di sisi lain saya juga kasihan, sekaligus takut. Kasihan melihat betapa tidak menyenangkannya masa tua Nek Haji dan takut bahwa nantinya saya akan seperti itu.
Ah, semoga saja masa tua saya bisa menyenangkan.
Dan semoga saja masih ada waktu buat Nek Haji untuk merasakan kesenangan di masa tuanya. Ya, semoga saja.