Sepi
Aku sedang duduk sendirian di tengah keramaian. Depanku sibuk. Kananku sibuk. Kiriku sibuk. Tidak ada yang sendiri. Hanya aku.
Aku menyeruput teh hijau hangat. Ini sudah gelas ketiga. Di atas meja ada sepiring kecil sushi, berisi enam potong yang kini tinggal tersisa tiga. Ada juga piring kosong yang tadinya terisi sayur-mayur yang kini telah mengisi rongga perutku.
Entah.
Senja ini, di tengah keramaian ini, aku merasa sendirian. Perasaanku tak nyaman. Telinga menangkap hingar bingar, tapi hatiku kosong. Senyap. Sepi. Tanpa bunyi.
Apa yang salah?
Aku pun tidak tahu. Seharian ini aku diliputi mendung, padahal cuaca sedang bersahabat. Mentari sedang cantik dan menyengat, namun gagal menularkan semangat.
Sepi.
Aku kembali merasakan itu. Kesepian yang entah kapan menjadi sering aku temui, yang entah sejak kapan menjadi tamu yang kerap mampir menemuiku. Aku suka sepi, tapi aku tidak suka kesepian.
Mungkin aku kesepian? Ah, masa’ sih? Mungkin aku yang sedang terlalu melankolis hingga menjadi mendramatisir? Ah, aku tidak tahu. Saat ini yang terasa hanya rongga di dada yang entah mengapa terasa sesak.
Jadi, aku kesepian?
Apa aku kesepian? Sejak kapan? Kenapa?
Ah, kini terlalu banyak tanya yang menari di kepalaku..
Posted on January 16, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 1 Comment.
ya,,,, kamu memang kesepian.. walau banyak orng yg berada di sekitarmu. AKu juga biasa merasa seperti itu, bahkan aku juga berpikir bahwa aku hanya terlalu mendramatisasi hatiku sendiri… tapi ternyata bukan hanya aku yg selalu merasakan hal itu.