Vanya

Aku Cinta Detikcom memperkenalkan aku dengan 59 petualang lain.
Salah satunya perempuan berusia 20 tahun bernama Vanya Safitri yang menjadi rekanku, yang menjadi teman berpetualang selama 20 hari.

Vanya bukan gadis biasa.
Ada keunikan yang aku temukan pada perempuan berperawakan kecil mungil berwajah manis ini. Pertemuan pertama kami terjadi ketika briefing Aku Cinta Indonesia, di mana Vanya datang telat karena harus mengikuti acara kampus dulu. Pada pertemuan pertama aku melihat sekilas bahwa Vanya merupakan perempuan manis yang lucu.

Tapi ternyata, penilaianku salah.
Perjalanan selama 20 hari mengubah persepsiku terhadap Vanya. Di balik paras manis dan perawakannya yang mungil, tersembunyi energi yang sangat besar.

Vanya sangat bersemangat. 20 hari bersamanya membuatku tau bahwa energinya begitu besar untuk mengeksplorasi Jawa Timur dan Bali. Ada tenaga dan energi positif yang terus memayungi langkah Vanya, yang membuat dirinya seakan tidak pernah lelah untuk terus menjelajah. Ketika titik lelah itu datang, Vanya pun menjadi manusia biasa yang pelor (asli, dia gampang banget tidur) dan susaaaaaah banget buat dibangunin haha. Tapi setelah nyawa terkumpul, Vanya akan kembali menantang dunia.

Simple.
Satu kata itu bisa membungkus profil Vanya. Perjalanan 20 hari dijalaninya dengan sangat simpel. Perlengkapan seadanya. Peralatan seadanya. Dan bahkan Vanya tidak bawa uang sama sekali. Karena keterbatasan itu, ia menjalani hari-hari dengan sangat simpel dan teratur. Di tengah perjalanan, Vanya menceritakan dari mana kebiasaan itu berasal: dari orang tuanya yang sejak kecil membiasakan dirinya hemat dan ‘berjuang’ untuk mendapatkan sesuatu. Cool. Vanya sangat menikmati kesederhanaan, ketika menemukan sesuatu yang menurutnya berlebihan, ia pun bisa menjadi bete. Aku ingat ketika ia kesal berada di tengah Ubud yang senja itu hiruk pikuk dan penuh dengan bule hihi. Oh ya, Vanya ini tidak menggunakan Blackberry, ia cinta mati dengan Nokia kesayangannya yang telah ia pakai semenjak SMP. Selama petualangan ACI, Vanya selalu kegirangan ketika melihat saya dan Dwi (satu rekan lain) yang selalu misah-misuh tiap kali BlackBerry kami kehabisan baterai.

Vanya kuliah di Unpad. Vanya pun juga kuliah di ISI, mengambil jurusan Seni Karawitan. Ya. Vanya ini seniman. Selama perjalanan ACI, Vanya sangat tertarik mengeksplorasi kesenian tanah air, salah satunya kesenian gamelan yang di tiap daerah berupaya ia tekuni dan eksplor. Kemampuan bermusiknya luar biasa! Salut dengan pilihan Vanya untuk kuliah di Karawitan dan menjadi salah satu pemudi yang terus berjuang melestarikan kesenian tanah air.

Berpetualang dan mengenal Vanya menjadi salah satu pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Neng, kapan lagi kita dangdutan? :D

About Haqi Achmad

Pencerita

Posted on January 12, 2012, in 366 and tagged . Bookmark the permalink. Leave a Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers