Tentang menjadi remaja yang (sedikit) berbeda
Tidak pernah terfikir di benak saya untuk bisa mendapatkan kehidupan seperti sekarang. Pada awalnya saya sama seperti para remaja lainnya, selepas SMA saya juga merencanakan kuliah dan mengejar impian saya untuk menjadi wartawan dengan berencana kuliah di jurusan jurnalistik. Tapi rencana itu akhirnya hanya menjadi sebuah rencana yang tidak sempat terealisasi. Belum sempat saya mendaftar di uni swasta pilihan saya, tawaran kerja datang dan saya –setelah berdiskusi dengan keluarga- akhirnya sepakat untuk menunda kuliah dan menerima tawaran pekerjaan itu.
Bekerja membuat hidup saya berubah.
Jujur saja di beberapa bulan pertama saya mengalami shock, terlebih begitu melihat kenyataan bahwa teman-teman saya sedang bersukacita dengan kehidupan baru di dunia perkuliahan –yang saya ‘intip’ lewat Facebook. Saya merasa tersisih. Saya merasa menjadi sosok aneh di dunia lain yang berbeda dengan mereka. Beberapa kali saya sempat main ke SMA saya dan mendapati raut wajah guru-guru yang menatap saya dengan aneka macam ekspresi begitu mengetahui saya kini bekerja.
Untungnya saya bisa beradaptasi dengan cukup cepat.
Dan untungngnya pula saya bisa menyadari bahwa yang saya lakukan sekarang adalah sebuah pilihan yang kemarin sudah saya diskusikan dan fikirkan masak-masak. Saya pun kembali menjalani pekerjaan saya dengan sebuah pegangan : bahwa ini adalah sebuah pilihan yang telah saya ambil.
Kamu tau, kadang berat rasanya mendapat tekanan kerja yang menghantam dari sana-sini. Bahkan beberapa orang ada yang pernah bilang bahwa saya telah kehilangan masa remaja saya. Mereka menganggap saya terlalu sibuk bekerja hingga tidak bisa menikmati hidup layaknya remaja seumuran. Saya ingin menyangkal, tapi di sisi lain saya sadar pendapat itu tidak sepenuhnya salah.
Kehidupan saya memang tidak seperti teman-teman saya yang lain.
Tidak ada kuliah. Tidak ada kumpul-kumpul di kantin kampus bersama teman satu geng. Tidak ada ngerjain tugas sambil main internet di J.co. Tidak ada seru-seruan menggebet teman satu kelas. Saya tidak mendapatkan itu semua.
Kehidupan saya berputar mengikuti pekerjaan saya sebagai penulis –dan kini juga sebagai talent coordinator.
Menyiapkan sinopsis. Mengejar deadline. Brainstorming dengan produser. Ditolak ide ceritanya dan harus mencari ide yang lebih segar. Casting pemain. Ikut ribet mengurus budget pemain. Syuting sampai pagi. Meeting sana-sini. Mengatur waktu untuk aneka macam kegiatan. Dan tentunya mencuri kesempatan untuk mendapatkan me time.
Terkadang saya merasa hidup saya berjalan begitu cepat
Pergerakan yang ada terjadi dalam ritme yang tinggi, dimana saya harus menyesuaikan diri dengan segera agar bisa mengikutinya, agar tidak ambruk dan merusak segala yang ada. Saya tau saya gampang sakit dan rasanya pasti dalam 1 bulan saya akan ambruk karena kondisi fisik saya yang memang lemah dari dulu.
Oh ya ada yang bilang saya udah kaya. Ada yang bilang saya udah sukses. Dan saya cuma bisa meresponnya sambil tersenyum dan berkata amien dalam hati. Mungkin kamu juga pengen tau? Saya belum mencapai tahap itu. Saya masih harus bekerja keras untuk mendapatkan banyak uang. Saya masih harus ekstra gigih untuk bisa mencapai target yang telah saya buat. Dan saya yakin saya bisa, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkan itu semua.
Seringkali ketika semua tekanan berkumpul menjadi satu, saya merindukan masa-masa menjadi remaja kebanyakan. You know, umur saya baru 19 tahun dan saya rasa wajar jika saya masih suka labil dan merasa ingin mendapatkan hak saya untuk ‘bermain-main’ selayaknya remaja biasa. Tapi saya tau, porsi saya untuk mendapatkan hak itu tidaklah sebesar dulu dan tentunya tidak sebesar porsi yang dimiliki teman-teman saya.
Mendadak pengen bolos kerja. Mendadak pengen tidur di rumah aja dan bermalas-malasan. Mendadak malas nulis. Mendadak gak mau meeting. Mendadak males syuting. Mendadak ingin kabur dari rutinitas. Semua itu adalah hal yang manusiawi. Hei people, sekali lagi, umur saya baru 19 tahun dan saya masih butuh keceriaan dunia remaja kan?
Tapi saya tau pekerjaan yang saya ambil menuntut sebuah profesionalisme. Dan saya berusaha memenuhi itu. Saya masuk kantor walau langkah kaki terasa berat. Saya meninggalkan rumah walau pas melihat kasur pengen banget tidur. Saya tetap menulis walau kadang gak bisa nulis apa-apa karena kepala buntu. Saya harus ikut meeting karena itu penting. Saya ikut syuting walau di lokasi mati-matian berusaha menghibur diri. Dan pada akhirnya saya tetap menjalani rutinitas yang ada dan berupaya menjalani lintasan ini dengan baik agar nantinya bisa memenuhi list impian yang saya buat.
Hmmmm..
Rasanya tulisan saya udah ngalor ngidul kemana-mana ya? Haha, perlu kamu tau saya menulis ini jam 7.34 pagi, di lokasi syuting Namaku Gatotkaca, syuting hari terakhir yang melelahkan yang membuat waktu tidur saya berkurang, yaaa jadi maklum aja kalo tulisannya agak gak nyambung per paragrafnya hehe.
Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan satu hal yang selalu bisa membuat kadar pede saya meningkat drastis. Kamu tau, senang rasanya jika saya bisa dikenal orang sebagai seorang penulis. Rasanya ada puluhan kupu-kupu yang menari di perut saya tiap kali ada orang yang mengenal saya sebagai penulis skenario.
Baihaqi Achmad : penulis skenario
Hmmmm lebih oke kan dibandingkan teman-teman saya lainnya yang ‘cuma’ menjadi mahasiswa? Huahahahahahaha ;p –guys, bagian terakhir ini gak usah diambil hati, saya cuma bercanda kek. Kalo kata Alisha di film Fiksi begini : saya cuma bercanda, gak perlu jadi drama
Yasuwdlah gitu aja ceritanya.
Daaah! Sukses terus buat semuanyaaaaaa!!




Setiap pilihan memang membawa konsekuensi yang mau tidak mau harus dihadapi. Tetap semangaaaaaat…!!!
Kamu 19 tahun udah jadi penulis skenario!! That’s awesome!!! Kayaknya keputusan untuk gak kuliah dulu dan sedikit meng-skip “kesenangan masa remaja” worth to a very single penny… Masih banyak lho, orang-orang yang seumuran kamu masih wondering mo jadi apa nantinya atau mau ngapain sesudah selesai kuliah.
Keep up the good work!!!
Btw, your blog has been my daily reading… ^_^ Sayang, gue belum sempet nonton karya FTV-mu…huehehe.
Good luck!
maju terus yaaa!
btw, saya suka blogmuuu!
sukses selalu.
nggak ada yang salah qi, jadi seseorang yang BEDA. Dan kamu harus beruntung karena SOFTSKILL kamu lebih terasah dengan jauh lebih baik dibanding anak-anak kuliahan yang kerjaanya mentingin IP mulu kayak di kampus saya (kalau kamu nggak ikutan UKM ya. Kalau ikutan UKM sih ada softskill nya).
tetap selalu semangat, ya qi
gue suka sama posting2 introspeksi diri kayak gini.
Hebat elo, bro, usia segitu uda bisa bersikap dewasa dengan tanggungjawab yg besar di dunia industri. Gue aja jujur, selepas sidang skripsi S-1 aja masih belum kepikiran mau kemana arahnya.
Semoga elo bisa menciptakan storyline yg bener2 kreatif, out of the box (tdk klise seperti sinetron), tapi juga menjual!
Keep up a good work!