Saya akui, saya masih sering bermanja-manja dengan Ibu.
Saya akui, saya masih sering makan disuapi
Saya akui, saya masih sering minta Ibu membelai rambut saya
Saya memang manja
Tapi di sisi lain, saya dengan bangga –dan mungkin sedikit narsis- bisa mengaku bahwa saya adalah sosok yang mandiri.
Sejak kecil, saya selalu diajarkan bahwa hidup itu tidaklah mudah.
Saya tidak datang dari keluarga kaya. Saya datang dari keluarga biasa. Saya datang dari lingkungan dimana saya mau tidak mau harus belajar untuk mandiri. Saya lahir dari lingkaran yang menuntut saya untuk bisa mengejar apa kemauan saya, bukan sekedar menunggu sampai kemudian keinginan itu bisa terkabul dengan mudah –atau mungkin dikabulkan seseorang dengan indahnya.
Ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang saya mau.
Bukan-bukan, orangtua saya bukan tipikal seseorang yang menyuruh saya jadi juara kelas demi mendapat sebuah hadiah –bahkan seingat saya, selama saya bersekolah baru sekali saya dikasih hadiah (VCD Ada Apa Dengan Cinta) ketika saya lulus SD dan bisa masuk SMP idaman, itu pun karena saya waktu itu penasaran banget pengen nonton AADC lagi hehe-
Saya tau, orangtua saya tidak kaya. Karena itulah saya senang bekerja demi bisa meraih keinginan saya tanpa harus merepotkan keluarga. Ya. Saya senang bekerja. Saya senang mencari uang. Saya pernah jualan keripik ketika SD. Saya pernah jualan penggaris berhitung ketika SMP. Saya pernah menjadi operator warnet saat masih SMA kelas 1 dan setelahnya saya semakin senang bekerja, bekerja dan bekerja.
Mungkin kalau saya terlahir sebagai anak orang kaya. Saya tidak akan seperti ini. Tapi alhamdulillah karena berasal dari keluarga biasa, saya pada akhirnya terlatih dan terbiasa untuk hidup ‘keras’, untuk bisa bertahan mengejar segala macam keinginan, impian dan harapan, bukan hanya duduk manis dan menunggu sambil berpangku tangan.
Saya mau kuliah. Saya harus bekerja untuk mendapat biaya kuliah.
Saya mau ini. Saya harus itu
Saya mau beli segala macam majalah dan segala macam tetek bengek hiburan lainnya. Saya harus menyisihkan uang jajan.
Saya mau itu. Saya harus ini
Saya mau beli handphone baru ketika handphone lama saya tiba-tiba mati. Saya harus meminta bantuan tetangga untuk bisa dapat cicilan selama 3 bulan.
Saya mau begini. Saya harus begitu.
Saya mau beli laptop untuk menunjang pekerjaan saya sebagai penulis. Saya harus meminta bantuan adik Ibu saya untuk bisa meminjamkan uang dan tiap bulannya saya harus membayar cicilan.
Saya mau menyayangi seseorang. Saya harus siap patah hati –taiii hahaha
Ada harga yang harus dibayar, sayaaang.
Tidak ada yang gratis di dunia ini. Tidak ada hal yang datang dengan mudahnya. Saya selalu percaya, tidak pernah ada hal sempurna. Dan saya juga selalu meyakini bahwa apabila suatu hal tercipta dengan sangat baik dan sangat cepat, pasti akan ada sesuatu yang buruk di belakangnya. Bukan-bukan berarti saya selalu berfikiran negatif. Saya cuma mencoba realistis. Saya berusaha untuk tidak terlalu diawang-awang, karena saya tau, hidup bukan dunia kartun yang penuh tawa, hidup adalah perjalanan panjang dimana di dalamnya ada usaha, kerja keras, air mata dan tentunya tawa bahagia. Satu kata singkat untuk merangkumnya : hidup = pelajaran
Pelajaran terbaik yang sesuai dengan judul entri kali ini adalah : ada harga yang harus dibayar untuk segala hal. Serius, coba deh diinget-inget, coba deh difikir-fikir, semua hal yang ada di hidup ini ada harganya, semua hal yang kamu mau ada usaha untuk meraihnya, semua hal yang mau kamu capai itu pelu proses. Ya. Proses.
Proses membayar segala sesuatu itu.Proses dimana saya harus berkorban.
Proses dimana saya harus berusaha. Proses dimana saya akan menemukan segala bentuk rasa dan segala macam hal yang bisa saja menerjang usaha saya. Proses dimana saya harus melihat dunia dari sisi yang berbeda, dari sisi yang lebih dewasa, bukan dari sisi anak kecil manja yang terbiasa meminta.
Dan sekarang, disaat seperti ini
Ketika saya sedang mengejar impian saya menjadi penulis skenario film layar lebar. Ketika saya sedang mengejar impian saya untuk memenuhi daftar cita-cita saya. Saya harus membayarnya dengan beberapa hal.
Saya mengorbankan kuliah. Saya mengorbankan masa-masa muda saya –maksud saya, masa dimana saya masih bermain dengan teman-teman seumuran. Saya mengorbankan waktu untuk bersantai, menghabiskan waktu dengan leyeh-leyeh di rumah dan melakukan segala macam bentuk ‘kegilaan’ di waktu senggang.
Saya tidak mengeluh. Saya cuma sedang belajar
Bangku kuliah memang saya tinggalkan sejenak, tapi setumpuk pelajaran tetap saya dapatkan. Pelajaran dari kehidupan yang sebenarnya.