Jemari Haqi

talk slow think fast

Archive for August, 2009

Andai Mati Besok (Props Pics)

Posted by jemarihaqi on August 16, 2009


Roy Saputra : Jaka


Dimas Anggara : Bari


Reza Respati : Bismo


Anindita Putri : Kinar


Berliana Febrianti : Ibu

Bukannya sombong, tapi saya berani bilang, Andai Mati Besok adalah salah satu karya terbaik saya. Debut perdana saya yang berhasil membuat saya puas :)

Posted in Pekerjaan, Sinema, Spesial | Tagged: , , , , , , , , , , | 17 Comments »

Marshanda Juga Manusia

Posted by jemarihaqi on August 16, 2009

Ini satu video Marshanda, menyanyikan lagu Suga Mama -Beyonce. Good Job, Cha!

Andriani Marshanda, salah satu aktris yang dulu setiap minggu saya tongkrongin sinetronnya di RCTI. Jujur aja saya suka sama Marshanda, dulu perannya di Bidadari lucu-lucu gimana gitu, saya inget bahkan saya punya kaset soundtrack Bidadari -cover albumnya Marshanda pake gaun warna biru muda hiahaha.

Menjelang dewasa, saya gak terlalu memperhatikan kiprah si Lala ini. Paling sesekali ngeliat aktingnya di sinetron, atau mengintip kiprahnya di infotainment, atau biasanya dengerin lagu-lagu soundtrack sinetron religinya yang enak-enak (gak tau kenapa di beberapa lagu saya suka sekali dengan suara Marshanda). Nah sekarang Marshanda lagi rame banget diomongin orang. Masalahnya simpel : dia mengupload videonya di Youtube. Banyak persepsi. Banyak asumsi. Bahkan banyak pihak yang mengintimidasi. Saya bukan pihak-pihak itu. Urusan Marshanda mau ngapain kek. Saya cuma mau sedikit berpendapat, bahwa Marshanda juga manusia, dan manusia butuh wadah untuk bercerita, ya kalo Marshanda pake webcam dan mengupload videonya ke Youtube mungkin memang itulah cara terbaik untuknya bercerita -saya pun sempat pengen bikin video2 begitu tapi gak jadi karena buat upload di Youtubenya lemot parah. Marshanda juga manusia, dan sudah haknya manusia untuk mengekspresikan dirinya, kalau caranya mengganggu, ya mohon dimaafkan toooh hehe.

Posted in Musik, Showbiz | Tagged: , , , , , | 5 Comments »

Tentang cin(T)a

Posted by jemarihaqi on August 14, 2009

Sudah dari beberapa bulan lalu film ini membuat heboh dunia maya dengan trailer yang dimuat di Youtube dan beberapa penggalan informasi yang termuat di account Facebooknya. Dan akhirnya setelah menunggu, film ini hari ini melakukan premiere di Jakarta -setelah sebelumnya premiere di Bandung-, tepatnya menjadi bagian dari Kineforum di Taman Ismail Marzuki. Kebetulan sekali saya bisa hadir atas undangan Mbak Jenny Jusuf, sekali lagi thanks ya Mbak undangannya!

1. Cerita yang unggul
Tema yang unik -sensitif tapi jujur- dikemukakan dengan berani, tanpa malu-malu. Skenario yang ditulis oleh Sally Anom dan Sammaria Simanjuntak menjadi kekuatan film ini. Dialog yang matang dan ‘berisi’ menjadikan kemasan film ini berbeda. cin(T)a, bukan film biasa

2. Dua bintang baru
Ada dua nama yang -menurut saya- akan jadi besar dan menjadi next big thing di dunia perfilman tanah air. Mereka adalah Sunny Soon dan Saira Jihan, dua pemeran utama film ini. Sunny Soon berhasil memerankan karakter Cina dengan maksimal. Saira pun begitu -meski di beberapa bagian saya seringkali merasa terganggu dengan cara bicaranya yang terdengar tidak natural.

3. Gambar indah
Meski hanya mengambil beberapa titik lokasi, film ini bisa membuat mata segar dengan gambar-gambarnya yang indah. Departemen artistiknya juara! Saya suka sekali dengan lampu Bye, cantik yang berkelip di tengah gelap, nice!

4. Perkenalkan, namanya Sammaria
Ini dia sutradara baru yang sepertinya akan bisa menjadi the next Nia Dinata. Dengan penyutradaraan yang menjanjikan di film cin(T)a, saya yakin Sammaria akan bisa menjadi besar, menjadi salah satu dari sutradara wanita yang bisa menelurkan film-film berkualitas. Ditunggu karya berikutnya!

5. Soundtrack nendang
Homogenic sebagai musisi yang mengisi musik film ini berhasil memberikan nuansa yang manis dan selaras dengan keseluruhan filmnya. Liriknya bagus, musik pengiringnya seru, nendang banget-lah pokoknya!

6. Tektok
Dialog yang jujur dan seringkali frontal terkadang terdengar begitu ’serius’ dan perbincangan Cina dan Anisa di taman saat sedang bermain terasa tumpang tindih dan kurang enak dinikmati. Ada pula dialog yang terasa gak nyambung dan gak enak tek-toknya

7. Close up!
Ingat Rudi Soedjarwo yang suka bikin sakit mata karena sering mengambil gambar dengan jarak yang sangat dekat? Nah, di film ini juga begitu! Muka Cina dan Anisa sering banget diclose up! Tapi berbeda dengan film-film Rudi, Sammaria bisa membuat mata saya gak sakit karena cara ngambil gambarnya asik, detail dan diambil dari sudut-sudut yang menyenangkan buat mata.

8. Too fast?
Terkadang saya merasa perjalanan cerita berjalan terlalu cepat. Proses Cina dan Anisa saling mengenal berjalan dalam waktu yang terasa singkat. Ada kalanya pula saya merasa detail-detail tokohnya kurang tersampaikan.

9. Chemistry
Cina dan Anisa menampilkan chemistry yang kuat, yang membuat saya ikut larut mengikuti kisah perjalanan mereka yang penuh dengan berbagai tawa, kebersamaan yang manis, sekaligus kesedihan mendalam. Suka sekali scene dimana Cina dan Anisa tiduran bersama di bawah pohon, romantis dan manis ;)

10. Harapan itu (semakin) ada
cin(T)a adalah harapan baru. Sineas Indonesia semakin kreatif dalam membuat karya, dan cin(T)a menjadi sebuah pembuktian. Tim produksi yang didominasi muka-muka muda semakin mempertebal harapan itu, harapan bahwa masih akan ada film-film dengan ide-ide segar yang menyegarkan.

4/5

Posted in Sinema | Tagged: , , , , , | 10 Comments »

Tentang Harga yang Harus Dibayar

Posted by jemarihaqi on August 14, 2009

Saya akui, saya masih sering bermanja-manja dengan Ibu.
Saya akui, saya masih sering makan disuapi
Saya akui, saya masih sering minta Ibu membelai rambut saya
Saya memang manja
Tapi di sisi lain, saya dengan bangga –dan mungkin sedikit narsis- bisa mengaku bahwa saya adalah sosok yang mandiri.

Sejak kecil, saya selalu diajarkan bahwa hidup itu tidaklah mudah.
Saya tidak datang dari keluarga kaya. Saya datang dari keluarga biasa. Saya datang dari lingkungan dimana saya mau tidak mau harus belajar untuk mandiri. Saya lahir dari lingkaran yang menuntut saya untuk bisa mengejar apa kemauan saya, bukan sekedar menunggu sampai kemudian keinginan itu bisa terkabul dengan mudah –atau mungkin dikabulkan seseorang dengan indahnya.

Ada harga yang harus dibayar untuk sesuatu yang saya mau.
Bukan-bukan, orangtua saya bukan tipikal seseorang yang menyuruh saya jadi juara kelas demi mendapat sebuah hadiah –bahkan seingat saya, selama saya bersekolah baru sekali saya dikasih hadiah (VCD Ada Apa Dengan Cinta) ketika saya lulus SD dan bisa masuk SMP idaman, itu pun karena saya waktu itu penasaran banget pengen nonton AADC lagi hehe-

Saya tau, orangtua saya tidak kaya. Karena itulah saya senang bekerja demi bisa meraih keinginan saya tanpa harus merepotkan keluarga. Ya. Saya senang bekerja. Saya senang mencari uang. Saya pernah jualan keripik ketika SD. Saya pernah jualan penggaris berhitung ketika SMP. Saya pernah menjadi operator warnet saat masih SMA kelas 1 dan setelahnya saya semakin senang bekerja, bekerja dan bekerja.

Mungkin kalau saya terlahir sebagai anak orang kaya. Saya tidak akan seperti ini. Tapi alhamdulillah karena berasal dari keluarga biasa, saya pada akhirnya terlatih dan terbiasa untuk hidup ‘keras’, untuk bisa bertahan mengejar segala macam keinginan, impian dan harapan, bukan hanya duduk manis dan menunggu sambil berpangku tangan.

Saya mau kuliah. Saya harus bekerja untuk mendapat biaya kuliah.
Saya mau ini. Saya harus itu
Saya mau beli segala macam majalah dan segala macam tetek bengek hiburan lainnya. Saya harus menyisihkan uang jajan.
Saya mau itu. Saya harus ini
Saya mau beli handphone baru ketika handphone lama saya tiba-tiba mati. Saya harus meminta bantuan tetangga untuk bisa dapat cicilan selama 3 bulan.
Saya mau begini. Saya harus begitu.
Saya mau beli laptop untuk menunjang pekerjaan saya sebagai penulis. Saya harus meminta bantuan adik Ibu saya untuk bisa meminjamkan uang dan tiap bulannya saya harus membayar cicilan.
Saya mau menyayangi seseorang. Saya harus siap patah hati –taiii hahaha

Ada harga yang harus dibayar, sayaaang.
Tidak ada yang gratis di dunia ini. Tidak ada hal yang datang dengan mudahnya. Saya selalu percaya, tidak pernah ada hal sempurna. Dan saya juga selalu meyakini bahwa apabila suatu hal tercipta dengan sangat baik dan sangat cepat, pasti akan ada sesuatu yang buruk di belakangnya. Bukan-bukan berarti saya selalu berfikiran negatif. Saya cuma mencoba realistis. Saya berusaha untuk tidak terlalu diawang-awang, karena saya tau, hidup bukan dunia kartun yang penuh tawa, hidup adalah perjalanan panjang dimana di dalamnya ada usaha, kerja keras, air mata dan tentunya tawa bahagia. Satu kata singkat untuk merangkumnya : hidup = pelajaran

Pelajaran terbaik yang sesuai dengan judul entri kali ini adalah : ada harga yang harus dibayar untuk segala hal. Serius, coba deh diinget-inget, coba deh difikir-fikir, semua hal yang ada di hidup ini ada harganya, semua hal yang kamu mau ada usaha untuk meraihnya, semua hal yang mau kamu capai itu pelu proses. Ya. Proses.

Proses membayar segala sesuatu itu.Proses dimana saya harus berkorban.
Proses dimana saya harus berusaha. Proses dimana saya akan menemukan segala bentuk rasa dan segala macam hal yang bisa saja menerjang usaha saya. Proses dimana saya harus melihat dunia dari sisi yang berbeda, dari sisi yang lebih dewasa, bukan dari sisi anak kecil manja yang terbiasa meminta.

Dan sekarang, disaat seperti ini
Ketika saya sedang mengejar impian saya menjadi penulis skenario film layar lebar. Ketika saya sedang mengejar impian saya untuk memenuhi daftar cita-cita saya. Saya harus membayarnya dengan beberapa hal.

Saya mengorbankan kuliah. Saya mengorbankan masa-masa muda saya –maksud saya, masa dimana saya masih bermain dengan teman-teman seumuran. Saya mengorbankan waktu untuk bersantai, menghabiskan waktu dengan leyeh-leyeh di rumah dan melakukan segala macam bentuk ‘kegilaan’ di waktu senggang.

Saya tidak mengeluh. Saya cuma sedang belajar
Bangku kuliah memang saya tinggalkan sejenak, tapi setumpuk pelajaran tetap saya dapatkan. Pelajaran dari kehidupan yang sebenarnya.

Posted in Kehidupan | 2 Comments »

Andai Mati Besok

Posted by jemarihaqi on August 5, 2009

Pemain : Dimas Anggara, Reza Respati, Roy Saputra, Juwita Tofhany, Berliana Febrianti, Anindita Putri, Elkie Kwee, Michelle
Sutradara : Reka Wijaya
Penulis Skenario : Baihaqi Achmad

Teman-teman, jangan lupa nonton FTV Andai Mati Besok ya!
Kamis 6 Agustus 2009 jam 19.00 di Trans TV. Ditunggu sekali komentarnya!

Posted in Pekerjaan, Sinema, Spesial | Tagged: , , , , , , , , , , , | 34 Comments »

Saya (belum) bisa

Posted by jemarihaqi on August 4, 2009

Saya (belum) bisa berenang
Saya (belum) bisa menyetir
Saya (belum) bisa berbahasa Inggris dengan baik
Saya (belum) bisa bermain sepakbola dan basket
Saya (belum) bisa menyelesaikan sebuah novel
Saya (belum) bisa merampingkan perut
Saya (belum) bisa ke gym dan membentuk badan
Saya (belum) bisa pergi ke Papua dan daerah eksotis Indonesia lainnya
Saya (belum) bisa berhubungan serius dengan perempuan
Saya (belum) bisa menabung untuk masa depan
Saya (belum) bisa mandiri sepenuhnya
Saya (belum) bisa sholat lima waktu tiap hari
Saya (belum) bisa beli Mac Book
Saya (belum) bisa mewujudkan impian memiliki majalah online (Abjad)
Saya (belum) bisa membeli kamera polaroid
Saya (belum) bisa kuliah
Saya (belum) bisa magang di majalah
Saya (belum) bisa bekerjasama dengan idola saya
Saya (belum) bisa meraih beberapa keinginan yang ada
Saya (belum) bisa membeli kasur baru -hehe
Saya (belum) bisa memberikan Nenek sesuatu
Saya (belum) bisa melupakan seseorang
Saya (belum) bisa ikut kursus penulisan
Saya (belum) bisa beli sepatu idaman
Saya (belum) bisa punya kaos motif batik yang bagus
Saya (belum) bisa bertatap muka langsung dengan SBY
Saya (belum) bisa menemukan Putri yang diciptakan Tuhan untuk saya

Saya memang (belum) bisa, tapi saya yakin akan ada saatnya kata (belum) yang ada di atas menghilang. Karena saya yakin, semua hal butuh waktu. Semua yang terjadi di dalam kehidupan butuh proses.

Akan ada saatnya, nanti

Posted in Uncategorized | 7 Comments »