Krazy Crazy Krezy
Jenis Film : Drama Komedi
Pemain : Tora Sudiro, Vincent Rompies, Pierre Andre, Sigi Wimala, Sissy Prescillia, Julia Ziegler, Acha Septriasa
Sutradara : Rako Prijanto
Penulis : Brij Katyal
Produser : Sharad Sharan
Produksi : 999 Pictures
Awalnya film ini berjudul Teman Selamanya, tapi entah mengapa tiba-tiba diganti menjadi Krazy Crazy Krezy, sebuah judul yang menurut saya gak enak didengar -dan juga gak enak diucapkan. Dan kalo diperhatikan, sama seperti judulnya yang tiba-tiba diganti, film ini juga tiba-tiba aja bakalan tayang besok, padahal selama seminggu kemarin daftar film coming soon di 21Cineplex belum memasukkan film yang disutradarai Rako Prijanto ini. Hmmm, semua serba tiba-tiba yaa
Banyak catatan buat film ini. Saya blak-blakan aja yaaa, malas berbasa-basi hehe :
1. Saya merasa cerita film ini ngalor ngidul kabur kemana-mana, fokus cerita gak jelas dan cenderung tidak terarah. Porsi tiga karakter utamanya cenderung sama besar dan membuat jalinan ceritanya menjadi seperti tumpang tindih. Pergerakan ceritanya juga berjalan kurang enak
2. Tora Sudiro? Oh my, secara jujur saya harus bilang bahwa Tora semakin terlihat menjengkelkan (sorry dude!), Tora di sini terlihat berusaha menjadi Sonny, tapi yang terlihat tetaplah Tora sebagai bintang Extravaganza. Vincent Rompies menjadi aktor paling oke dari 3 aktor utama, dia bisa masuk ke karakternya dan menjelma menjadi pemuda asal Yogyakarta yang polos dan lugu. Pierre Andre? Hmmm, lumayanlah
3. Sissy Prescillia juara! Saya memang udah suka Sissy dari AADC dan terbukti sejauh ini Sissy selalu menampilkan akting prima yang natural, karakter Ratna masuk banget nih di muka Sissy yang manis. Sigi Wimala menampilkan akting yang lebih baik dibandingkan aktingnya di Kalau Cinta Jangan Cengeng, di sini Sigi terlihat lebih natural dan semakin cantik! Julia Ziegler? Hmmm ya gitu deh.
4. Acha Septriasa yang di film ini menjadi pendukung hanya berhasil mencuri perhatian di satu scene di dalam fantasi Tian. Selebihnya? Acha terlihat tidak menyatu dengan karakternya sebagai Suzanne. Terlebih lagi adegan menyanyi -yang mendominasi peran Acha di sini- seringkali menampilkan gerak bibir yang tidak sinkron dengan suara yang terdengar
5. Saya suka artistik film ini. Suasana kos-kosan Sonny -apalagi bagian depan, saat Kartika dan Ratna sedang duduk-duduk. Lalu panorama suasana Kawasan Kota Tua yang ikut ditampilkan film ini memberi nuansa tersendiri yang enak dipandang. Color film ini juga enak buat dipandang mata, nice!
6. Di film ini banyak sekali hal-hal berlebihan yang berpotensi menimbulkan tawa lewat komedi yang cenderung slapstick -salah satunya scene Sonny, Tian, Farid tidur dan kompak menepuk nyamuk seperti sedang menari saman- Mungkin memang konsep komedi di film ini ya komedi yang berlebihan seperti itu. Di beberapa bagian memang berhasil memancing tawa, tapi sisanya malah membuat saya tidak nyaman
7. Salahkan telinga saya yang tidak akrab dengan bahasa Melayu, dialog Pierre Andre dan Julia Ziegler -yang sering kelepasan pake bahasa Melayu- banyak yang tidak saya mengerti. Apalagi kedua aktor ini juga seringnya berbicara dalam tempo cepat
8. Saya suka baju yang dipakai Sissy dan Sigi. Di film ini dua aktris itu terlihat sangat manis dan menggemaskan, terutama Sigi yang menjadi ekstra cantik di film ini. Salut untuk Agus Gusye sebagai wardrobe-nya! Tapi Tora yang pake baju dari Endorse mulu agak ganggu yaaa hiahahahaha
9. Ini adalah film kesekian Rako yang kurang bisa saya nikmati setelah D’Bijis, Merah Itu Cinta dan Trimasgetir, saya gak tau apa Rako memang sedang bereksperimen atau gemar bermain-main di genre film komedi seperti ini, tapi yang pasti seharusnya ia bisa membuat film yang lebih baik.
10. Pada intinya film ini tidak terlalu buruk, di beberapa bagian berhasil membawa penonton ikut tertawa dan terbawa di adegan action-nya. Tapi penyampaian cerita yang kurang enak dan cerita yang cenderung aneh -dimana terlalu banyak hal yang kebetulan terjadi- membuat saya tidak bisa menikmati film ini dengan enak
2/5

Haqi udah nonton dimana?
oh, iya denger2 ini kan film produksi malaysia yah, dan pangsa pasar utamanya malaysia sama brunei kalo ga salah. jadi katanya emang menyesuaikan dengan selera negara tetangga, yah mungkin aja di sini dianggap garing, tapi bisa jadi di sana dibilang menyegarkan…
Rifa Mulyawan
July 16, 2009 at 5:21 pm