Semalam karya skenario perdana saya, Tetanggaku Suka Darah, tayang. Apa rasanya? Apa yang saya rasakan? Setengah jam sebelum TSD dimulai, saya mules, ngeri dan benar-benar gak ada bayangan akan seperti apa hasilnya, terlebih lagi ketika proses syuting saya tidak terlalu mengikutinya dan membuat gambaran saya mengenai visualisasi TSD minim sekali
Dari awal proses penulisan skenario, Archie Hekagery, si pemilik ide cerita/partner menulis/sutradara, sudah berkali-kali mengingatkan saya bahwa visualisasi cerita tidak akan sama dengan yang tertulis di skenario, apalagi kalau sudah di lokasi syuting bisa terjadi banyak hal yang memungkinkan adanya ‘improvisasi’. Saya mengangguk dan saat itu berusaha menerima itu, kemudian terus berinteraksi dan brainstorming dengan Archie, menyelesaikan draft 1 skenario itu dalam waktu 1 minggu dan sisanya diselesaikan dan direvisi oleh Archie dan pihak Trans TV
Dan ternyata memang banyak sekali perubahan yang terjadi
Awalnya memang sulit menerima, tapi kembali lagi saya sadar bahwa saya penulis baru, saya tau bahwa sutradara dan tim produksi lainnya pasti lebih mengerti ‘mau dibawa kemana’ skenario tersebut, dan hasilnya seperti yang semalam ditayangkan di Trans TV. Sebuah tontonan berdurasi 120 menit yang saya harap bisa menghibur penonton dan teman-teman semua yang sudah menyempatkan diri untuk menonton atau sekedar menyaksikan sekilas
Saya tersenyum bahagia saat mendapati nama saya tertulis sebagai penulis naskah di awal mula film. Hati saya berdesir. Ada semacam kebanggaan dan keharuan tersendiri ketika melihat hasil karya saya bisa disaksikan dalam format yang berbeda. Selama 120 menit saya menonton, saya sadar, masih banyak kekurangan yang ada, dan banyak ‘imajinasi’ saya yang berbeda dengan visualisasi cerita. Saya menerima itu. Saya sadar, saya seorang pemula, dan saya juga tau bahwa saya masih dalam proses belajar
Ada teman saya yang nyeletuk ‘kok horor sih? bukannya elo anti film horor?’
Ya. Saya siap menjawab pertanyaan ini. Saya bukan anti film horor, tapi dari banyak genre film, horor memang bukan favorit saya. Dan lagi bukan berarti sebagai penulis saya tidak akan menulis film horor kan? Apalagi saya penulis baru -sekali lagi, penulis baru, jadi saya mencoba realistis untuk memulai karier saya dengan menjajal genre ini. Toh meski begitu saya tetap memasukkan unsur ’saya’ di ceritanya : drama. Lagipula, saya menganggap langkah awal ini sebagai pijakan saya untuk ke depannya, sebagai sarana belajar dan ‘memperkenalkan diri’ ke khalayak ramai, ‘memasang nama’ sebagai penulis naskah yang terpampang di televisi dan berharap ke depannya hal itu bisa membantu karier saya
Terimakasih untuk teman-teman yang sudah menonton dan memberi komentar. Terimakasih banyak atas dukungannya. Ini adalah awal perjalanan saya, doakan saya agar terus bisa berjalan menapaki karier saya ini.
Tadi di Facebook, ada yang nanya : ‘gimana rasanya ngeliat nama lo di credit title?’
Saya akan menjawabnya dengan 1 kata : menyenangkan