Titanium

Maaf untuk Pesan Dari Bintang dan Lukisan Hujan, posisi kalian harus tergeser oleh Titanium di singgasana novel Sitta Karina yang menurut saya paling memukau. Ya, Titanium sukses menyihir saya, membuat saya terlarut di dalamnya, memberi efek yang benar-benar besar untuk saya, melebihi saat dulu saya membaca Pesan Dari Bintang –yang membuat saya jatuh cinta setengah mati sama Inez Hanafiah- dan Lukisan Hujan –yang menjadikan saya ingin seperti Diaz Hanafiah-
Adalah Austin Taura Hanafiah dan Romijn Indira Singgih yang membuat saya jatuh cinta. Salut untuk Sitta Karina atas dua karakter yang sangat hidup ini. Austin yang dari novel-novel sebelumnya secara tersirat dideskripsikan sebagai seorang robot yang sangat kaku, di sini menjadi sosok yang berbeda, Austin lebih terlihat sebagai sosok yang rapuh tapi di sisi lain berjiwa ksatria –terlebih di berbagai hal yang menyangkut Romy. Sementara itu, Romijn adalah gambaran ideal bagi mereka yang selama ini menunggu karakter yang benar-benar berkarakter. Campuran sifat Romy membuatnya menjadi sosok yang sangat mempesona, Inez Hanafiah mah lewaaaaat deh. Chemistry Austin dan Romy, usaha mereka untuk menemui akhir perjalanan cinta mereka, interaksi mereka yang terjalin manis –dan seringkali pedas, merupakan suguhan yang sangat menarik untuk disimak
Cara Sitta Karina dalam bertutur juga semakin enak dinikmati, meski kalau boleh jujur saya kurang suka dengan cara Kak Arie menunjukkan banyak tokoh di bagian-bagian awal –yang membuat saya pusing dan berulang kali bolak-balik halaman untuk mengecek karakternya supaya tidak salah. Tapi cara Kak Arie menyampaikan deskripsi tokoh dan segala hal yang berkaitan dengan tokohnya memang jempolan banget, di sini kita seperti diajak melongok kehidupan Austin dan Romy sampai ke dalam-dalamnya, istilahnya sampai ke isi-isi perut mereka.
Dan satu hal lagi, dialog di Titanium juara deh! Banyak sekali dialog-dialog oke yang bisa dijadikan quote di novel ini. Selain oke karena sarat makna dan menyentil, ada juga dialog yang cukup ‘nyeleneh’ dan menimbulkan tawa tersendiri.
Salut untuk Titanium. Salut untuk Sitta Karina. Salut
4.5/5
Beberapa dialog favorit saya :
Jadi ke Majalengka hari ini? Titip opak dan rengginang ya buat Niki. –Inez Hanafiah
Opak? Rengginang? Makhluk apa pula itu? –Austin Hanafiah
Kamu gak mau? –Austin Hanafiah
Kamu gak pernah ngajak –Romijn Indira Singgih
I hate growing up! –Carine Kingsley
Who doesn’t? –Romijn Indira Singgih
Romy, camkanlah selalu bahwa sebuah pilihan tepat bagi seseorang apabila pilihan itu adalah sesuatu yang ia sukai dan memberi manfaat bagi orang banyak. Kalau kamu mengikuti suara hati, berarti kamu telah menjawab panggilan hidupmu. Suara itu selalu ada di hati setiap manusia, tapi pilihan manusia untuk mendengarnya atau tidak –Sandrani Singgih
Saya gak jago berbasa-basi –dan memang paling malas untuk itu. Kamu ini seperti anak SMA saja, masih kepingin peresmian dengan tembak menembak- Austin Hanafiah




huhuhu aku blom baca nih qi..
harus nunggu sampe pulang indo dulu
ugggghhh ga sabaarrrr!!!!!
uDAH ada belon di Gramed Qi? pengenn bacaaa
same here, gue juga sudah baca Qi..
emosi gue naik turun nih pas baca novel ini. heheh
gue yang dulunya cinta mati sama karakter Diaz, berubah jadi cinta mati sama Austin nih gara-gara novel ini.
Novel tentang the hanafiahs selanjutnya yang wajib ditunggu : Tentang Seseorang…
suka banget sama Indira!
jadi jatuh cinta sama dia… inez mah lewat… hehehe..
aku juga suka conversation antara Oz sama Romy yg ini..
“Kamu gak mau? –Austin Hanafiah
Kamu gak pernah ngajak –Romijn Indira Singgih”
wow..
haqiiiiiiiii, you don’t know how much I want to read this book after I read your review! arrrrggghhhhhhhh! gw pengen banget ada di gramedia skarang dan ngantri beli titaniummm!
wuihh.. emang bener! Titanium emang kereeeennn!!!
ga percuma nunggu lama kalo hasilnya bagus kayak begono!
two thumbs up deh buat kak Arie! hehe
yeah, setuju bgt!!
titanium pokoknya yg paling keren deh..
g ada yg bs ngalahin kisah austin dan romy!!