Lokasi : Perempatan jalan di depan Pusat Grosir Cililitan
Pemain : Supir angkutan umum 06 dan perempuan muda yang menggendong anak kecil (pengamen)
Durasi : Lebih kurang 5 menit
Cerita : Perempuan muda (untuk mempersingkat, kita sebut saja dia sebagai PM) mengamen di sebuah angkot merah –yang berada di sebelah angkot 06- dia tidak bernyanyi, hanya menggumam tidak jelas, sementara itu anak kecil di dalam gendongannya menangis terisak, suara si kecil lebih mendominasi dibandingkan suara si PM.
Melihat dan mendengar tangis si kecil, supir angkot 06 (untuk mempersingkat, kita sebut saja dia sebagai SA)sepertinya gerah, ia kemudian berkata, setengah berteriak
SA : Udah sana susuin, adeknya nangis gitu masih aja dibawa ngamen
PM acuh, ia masih berdiri di dekat pintu masuk angkot merah, tapi sudut matanya menoleh tajam ke arah SA. Tangis bayi makin kencang. Suasana jalan semakin riuh dengan klakson kendaraan yang tidak mau sabar mengantri di belakang.
SA : Bawa sana ke Emak lo, kasian tuh adeknya
PM selesai di angkot merah, ia berjalan pelan melewati angkot 06, matanya menatap liar ke arah SA, dari gerak bibirnya ia berkata : BA-WEL, diucapkan hanya dengan gerakan bibir, tanpa suara. Kemudian PM duduk di pembatas jalan, tepat di sisi kanan angkot 06, di sebelah pintu SA.
SA : Dibilangin malah nyolot. Itu adek lo haus, bawa ke emak lo
PM : Bawel, bawel, bawel –diucapkan cepat dengan suara dan gaya yang menjengkelkan
SA geleng-geleng kepala. PM masih memasang muka jutek dengan bibir yang tiada henti berkata bawel. Lampu penunjuk jalan sebentar lagi berganti menjadi hijau, PM memasang muka bengis. Lampu penunjuk jalan yang semula berwarna merah berubah menjadi kuning, PM meludahi SA –yang akhirnya hanya mengenai kaca di pintu SA (yang kebetulan tertutup). Lampu penunjuk jalan berubah menjadi hijau, SA melajukan mobil dan sepertinya tidak terlalu menyadari bahwa ia baru saja diludahi.
***
Miris
Saya yang saat itu menjadi penonton hanya bisa terperangah melihat drama singkat tersebut, terlebih di bagian PM meludahi SA dengan santainya. Sekali lagi, meludahi. Apakah itu pantas? Apakah itu wajar dilakukan?
Dalam kasus ini jelaslah SA tidak bersalah. SA hanya mengeluarkan komentar serta memberi sedikit saran ke PN untuk membawa adiknya ke sang Ibu untuk disusui. Bukankah itu saran yang baik? Bukankah itu adalah hal baik? Wujud dari kepedulian SA terhadap si kecil di dalam gendongan yang tidak berhenti menangis dan meronta?
Kenapa PM harus meludahi SA?
Emosi? Kesal? Tidak suka? Merasa SA mencampuri urusannya?
Apapun itu, apakah wajar dan perlu PM sampai meludahi SA? Apakah perlu PM bertingkah sebarbar itu? Kalau pun PM tidak suka dengan komentar SA, bukankah ia cukup berdiam diri dan menerima? Atau paling jauh, bukankah dengan ia berkata ‘bawel, bawel, bawel.” ke SA sudah cukup bisa merefleksikan ketidaksukaannya?
Jadi, kenapa harus meludahi?
***
Saya tidak mengerti bagaimana kehidupan pengamen.
Saya juga tidak tau apakah anak kecil itu adik PM atau bukan –atau mungkin malah anaknya.
Saya juga tidak tau motivasi PM meludahi SA
Yang saya tau adalah bahwa tidak seharusnya PM meludahi SA
PM adalah wanita, apakah pantas seorang wanita bertingkah babar dengan meludahi seseorang? Bukan berarti lelaki bebas meludahi orang ya, sama saja lelaki juga tidak pantas meludahi seseorang, tapi dalam kasus ini kenapa seorang wanita bisa segitu ‘buas’nya dalam mengekspreksikan diri?
Katanya Indonesia bangsa yang ramah
Dimanakah sang keramahan berada ketika PM meludahi SA? Apakah si ramah tidak berlaku untuk PM? Apakah si ramah hanya milik segelintir orang saja –dimana PM tidak termasuk di dalamnya? Atau mungkin PM bukan warga negara Indonesia? Atau mungkin PM tidak pernah mengenal si ramah? Atau mungkin si ramah memang telah menghilang dari Indonesia?
Ah, rasanya kemungkinan terakhir tidaklah tepat.
Si ramah masih ada di Indonesia. Dan mungkin juga si ramah masih ada di diri PM, tapi mungkin ia bersembunyi di sudut, tidak menampakkan diri. Hmmmm… mungkin PM terlalu lama menyembunyikan si ramah. Mungkin buat PM meludah lebih menyenangkan daripada menampilkan si ramah.
Mungkin,
saya pun tidak tau pasti.