
Besok umur saya berubah, dari angka delapan belas menjadi sembilan belas
Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini saya tidak terlalu heboh tatkala melihat tanggal 27 Februari di kalender. Saya tidak lagi repot membuat daftar doa. Saya tidak lagi repot mempersiapkan uang untuk makan-makan bersama sahabat. Saya tidak lagi asik memikirkan seperti apa kehidupan saya di umur yang baru nantinya. Tidak seperti itu. Yang saya rasakan cuma satu ; biasa.
Oh bukan, bukan berarti momen bertambah usia menjadi tidak lagi spesial
Dan bukan juga karena saya tidak bersyukur besok (insya Allah) masih diberi kesempatan hidup dan menginjak angka 19. Saya cuma merasa semarak ulang tahun bukan lagi milik saya. Saya merasa euphoria kehebohan ulang tahun bukan lagi untuk saya. Saya merasa sudah selesai masa-masa seperti itu. Saya merasa diri saya berubah, entah lebih baik atau tidak, dalam menyikapi pergantian umur.
Bukan lagi dengan mikirin mau makan-makan di resto mana
Bukan lagi dengan sibuk nulis serentetan keinginan dan resolusi
Bukan lagi dengan terlalu sibuk berangan-angan tentang apa yang terjadi selanjutnya
Saya mencoba untuk realistis
Ya, saya tetaplah pemimpi nomer satu. Kegiatan favorit saya -dan sebagai penulis harus saya lakukan tiap saat- adalah berimajinasi. Tapi sekarang saya bisa menakar impian-impian dan berbagai khayalan saya. Saya semakin bisa mengerti kapasitas saya. Saya tau batas saya dan itu tidaklah memenjarakan saya atau menghambat ruang gerak saya.
Realistis membuat saya menjadi lebih realistis -apaan sih bahasanya haha-
Saya tidak mau jatuh terlalu jauh. Saya tidak mau terbang dengan ekspektasi yang berlebihan. Saya tidak mau melayang dengan obsesi yang menggunung. Saya cuma mau memiliki mimpi, mengejarnya semampu saya, dan mengaturnya agar tetap bisa berada dalam jalur, tidak melenceng kemana-mana, tidak pergi ke atas, ke bawah, ke kanan atau ke kiri. Saya cuma mau jalan saya jelas, lurus ke depan dan meraih target yang ada di sana.
Umur delapan belas adalah umur dimana saya jatuh berkali-kali
Merasakan sakit, kecewa, marah, pedih dan aneka macam perasaan buruk lainnya. Dan saya tidak mau mengulang itu semua. Cukup. Bagi saya sudah cukup segala macam rasa itu. Saya mau mengisi umur sembilan belas dengan aneka macam rasa yang nikmat, yang manis, yang bisa membuat saya terus tertawa dalam perjalanan saya meraih mimpi saya.
Saya masih bingung akan memanjatkan doa seperti apa
Doa-doa tahun lalu dipenuhi dengan permintaan lulus UN, bisa masuk universitas bagus, bisa selesaikan novel dan keinginan-keinginan lainnya. Doa tahun ini? Entahlah, saya bingung. Yang terbersit di fikiran saya cuma satu ; saya diberi keteguhan hati. Sembilan belas adalah tingkat terakhir saya di jenjang belasan, dan saya ingin menutupnya dengan sesuatu yang manis
Saya yakin, sembilan belas akan menjadi perjalanan yang indah.
Sembilan Belas, beberapa jam lagi kita akan bertemu
Foto dipinjam dari sini