Archive for January 2009
hello!
hello!
Tiga hari tidak menulis dan banyak sekali peristiwa yang terjadi. Ini saya rangkum aja yaa, agak bingung juga nulisnya gimana
1. Nation Pictures sudah pindah ke Juanda mulai Selasa lalu.
Jadi sekarang, tiap hari saya naik kereta api! Weeew seru juga yaa ternyata naik kereta, sumpek-sumpekan, panas-panasan dan MURAH -masa’ pas pergi saya cuma bayar 1000 dan pulangnya bayar 1500. Hari pertama kerja, pas pulang, saya dan Ika kelewatan satu stasiun karena gak bisa turun di stasiun Kalibata saking penuhnya. Tiap hari ada aja cerita menarik, ternyata kereta lebih seru dari angkot, lebih banyak kehidupan yang bisa digali hehe
2. Skenario saya terhambat.
Dari awal saya memang menyadari bahwa beban saya berat, menulis skenario untuk layar lebar itu tidak gampang, butuh mental dan kemampuan yang sangat baik untuk bisa menuliskan cerita dan mengisi jiwa sebuah film. Jujur, saya belum siap, jadi ketika akhirnya tertunda, saya (memang) kecewa, tapi disisi lain lega karena diberi kesempatan untuk memperbaiki dan belajar lagi dengan lebih mendalam.
3. Proyek hari jadi saya lancar looooh!
Eh belom cerita ya saya? Jadi begini, nanti di tanggal 27 Februari, tepat di ulang tahun saya yang ke 19, saya mau memberi kado untuk diri saya sendiri : NOVEL PERDANA SAYA. Jadi, mulai tanggal 17 Januari kemarin saya memulai proyek ini, dan alhamdulillah cukup lancar, sudah lebih dari 50 lembar dan aneka ide yang menari di kepala bisa tersalurkan dengan baik. Sekedar info, proyek ini merupakan dwilogi novel, untuk bagian pertamanya saya akan selesaikan sebelum 27 Februari, dan bagian terakhirnya akan saya kerjakan sambilan dengan riset-riset tentang Sydney. Doakan lancar yaaa
4. Pernah ngalamin yang namanya mentok?
Nah, jadi sekarang saya tuh sedang benar-benar mengalami yang namanya mentok. Mentok perasaan. Dan rasanya gak enak. Menyebalkan sekali. Mentoknya sama mantan pula! Dan anehnya kadang-kadang suka bercabang gitu mentoknya -ke mantan saya yang lain. Huahaha aneh memang.
5. Emangnya aneh ya kalo saya belom nonton -dan gak tertarik dengan Twilight?
Doooooh, masa’ sih saya harus ikutan suka sama Cullen dan Elizabeth Swan itu? Ogah ah, males
6. Kemarin saya ditelfon Gen FM.
Kenapa saya ditelfon? Ada deeeeh :p
Ketika saya masih polos

Lucu gak? Lucu doooong :p
En La Cama

Pemain : Blanca Lewin, Gonzalo Valenzuela
Sutradara : Matias Bize
Penulis : Julio Rojas
Produser : Adri N Solar
Produksi : Sony Pictures & Indalo Productions
Setelah bertemu di sebuah pesta, Daniela dan Bruno menghabiskan malam bersama di sebuah motel dengan hasrat yang menggebu untuk bercinta. Tapi, pada akhirnya mereka tidak hanya menghabiskan waktu dengan bercinta saja. Meski awalnya mereka adalah sepasang orang asing yang kebetulan bertemu, pada akhirnya Daniela dan Bruno juga berbagai banyak cerita serta membagi rahasia terdalam yang mereka punya.
Sebenarnya udah lama banget beli DVD ini di Taman Ismail Marzuki, cuma baru sempat ditonton semalam. Ada 3 alasan yang membuat saya membeli DVD film ini, pertama : posternya yang provokatif, kedua : film ini sudah menjuarai 3 festival film, dan yang ketiga : sinopsis ceritanya yang bagus. Dan ternyata, filmnya sendiri tidak mengecewakan.
En La Cama cuma memasang dua pemain, satu aktor dan satu aktris, serta mengambil satu lokasi : di kamar motel. Ya, film ini memang sederhana. Sederhana dari segi lokasi, pemain, dan juga cerita. Tapi sang sutradara berhasil mengemasnya menjadi kesatuan yang apik, yang enak untuk dinikmati, sekaligus memukau berkat kesederhanaannya yang matang.
Film ini mengalir apa adanya.
Kita dibawa dalam suasana Daniela dan Bruno yang intim, yang sebagian besar menghabiskan waktu mereka di atas ranjang. Nuansa intim tercipta dengan pas, pemilihan kalimat, penempatan topik yang dibicarakan dan kisah yang diceritakan, serta adegan panasnya, semua pas, tidak berlebihan.
Saya suka cerita film ini. Simpel tapi dalam.
Simpel tapi penuh dengan dialog-dialog yang ‘nampol’, dengan pembicaraan-pembicaraan sepele yang justru memiliki makna dan memberi kesan yang dalam. Salut untuk Julio Rojas atas skenario yang digarapnya. Pemilihan pemainnya sangat tepat. Chemistry antara Daniela dan Bruno dihidupkan dengan sangat baik oleh dua pemainnya. Blanca Lewin cantik deh! Mukanya imut-imut menggemaskan tapi juga seksi! Perpaduan yang unik. Gonzalo Valanzuela terlihat charming, sesuai dengan karakter Bruno yang disebut Daniela sebagai cowok lucu. Sebagai dua orang yang muncul dari awal hingga akhir film, Gonzalo dan Blanca sangat berhasil menghidupkan film ini.
Hasil Akhir :
Film ini tidak sesimpel yang terlihat di tampilan luarnya, En La Cama menawarkan cerita yang tidak simpel, cerita berbobot yang dihidupkan dengan baik oleh duet pemeran utamanya. Pssssst untuk yang masih dibawah umur disarankan jangan menonton film ini dikarenakan adanya adegan intim dalam porsi yang cukup banyak.
3,5/5
Dian Sastrowardoyo, Glam (Malaysia) Februari


Ini foto Mbak Dian dan Nicholas Saputra yang menjadi cover majalah Glam terbitan Malaysia. Keren ya?
Tua
Ada yang bilang ‘Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.’ Rasanya pernyataan itu memang sangat tepat. Sebagai manusia yang mengalami siklus kehidupan, kita akan terus tumbuh dan berkembang, dan perkembangan itu pada akhirnya akan menuju ke sebuah fase dimana kita akan menjadi tua –insya Allah kalau diberikan umur panjang.
Di samping rumah saya, ada seorang Nenek, orang-orang biasa menyebutnya Nek Haji. Seorang Nenek yang sudah cukup tua, usianya sekitar 70 tahun dan fisiknya memang terlihat renta. Beberapa tahun ini Nek Haji yang dulu segar, bisa diajak mengobrol dan menyenangkan berubah menjadi sosok yang terlihat lemah, pelupa, gak nyambung ketika diajak ngobrol dan menyebalkan karena (entah kenapa) selalu saja merepotkan siapa saja.
Nek Haji adalah seorang Janda tanpa anak. Dan dia hidup/dirawat oleh saudaranya –yang sudah seperti cucunya, yang kebetulan rumahnya juga dekat. Salah satu cucunya ini tinggal bersama Nek Haji dan ikut merawatnya. Saya, sebagai seseorang yang setiap hari bertemu beliau seringkali ikut kecipratan berbagai kerepotan yang berhubungan dengan Nek Haji. Jadi, belakangan ini Nek Haji hobi sekali minta maaf, katanya ia merasa seperti sedang dikejar-kejar (entah oleh apa) dan hal itu membuatnya takut. Nek Haji juga menjadi sangat pelupa, ia lupa cucunya dan menganggapnya sebagai suaminya (yang sudah lama meninggal), ia lupa nama orang, ia lupa jadwal makan, ia lupa banyak hal. Nek Haji menjadi rese’, sering ngoceh sendirian, mengomeli orang yang sebenarnya tidak salah dan aneka macam hal lainnya. Kata Ayah saya, Nek Haji menjadi bersikap seperti ini karena dipengaruhi oleh satu hal : ia merasa sendirian.
Menyeramkan?
Saya takut dan tidak ingin masa tua saya seperti Nek Haji. Sendirian, dihantui rasa takut, menjadi sosok yang terlihat menyebalkan di mata orang lain, dan tidak punya siapa-siapa untuk bersandar. Gak enak banget kan pasti? Menyedihkan sekali rasanya jika harus menjalani fase tua dengan cara seperti itu.
Masa tua idaman saya adalah hidup bahagia, melihat kesuksesan anak dan cucu saya, dikelilingi orang-orang yang saya kasihi dan pada akhirnya meninggal dalam keadaan bahagia. Bukankah itu semua terdengar sangat indah? Tapi bagaimana jika nanti masa tua saya akan seperti Nek Haji? Ooooh No, saya gak mau seperti itu.
Miris rasanya melihat Nek Haji, dan lebih miris lagi ketika saya menyadari bahwa saya kerap kali kesal kalau Nek Haji sudah ‘kumat’ dan nyebelin. Ya tapi gimana dong? Saudara Nek Haji aja sudah pusing dan sering angkat tangan, apalagi saya yang cuma tetangganya? Tapi di sisi lain saya juga kasihan, sekaligus takut. Kasihan melihat betapa tidak menyenangkannya masa tua Nek Haji dan takut bahwa nantinya saya akan seperti itu.
Ah, semoga saja masa tua saya bisa menyenangkan.
Dan semoga saja masih ada waktu buat Nek Haji untuk merasakan kesenangan di masa tuanya. Ya, semoga saja.
Kulit luar
‘Rambut gue bagusnya diapain? Potong dimana ya biar jadi bagus?’
‘Duuuuh shampoo gue abis nih! Harus keluar duit lagi deh buat beli shampoo itu, mana mahal pula.”
‘Perut gue buncit banget ya? Keliatan banget ya?’
‘Kenapa sih dia cantik banget?’
‘Emangnya gue jelek banget ya?’
‘Elo rebonding aja rambut lo, biar banyak yang suka.”
Astaga.
Beberapa hari ini pembicaraan mengenai kecantikan -mungkin lebih tepat disebut dengan pembicaraan mengenai fisik, berlangsung dengan serunya, silih berganti dan terus berlanjut. Ada seorang sahabat saya, cowok, yang sepertinya memang terobesi untuk mendapatkan tampilan fisik yang oke, yang memukau, dan sejak dulu ia selalu saja repot ini itu, perawatan sana-sini dan tidak pernah merasa puas dengan keadaan fisik yang ia punya.
Sebagai sahabat, saya merasa jengah.
Rasanya ingin teriak keras-keras tepat di depan muka dia dan berkata : ‘Udah deh Nyet!’
Oke, sebut saya cuek, sebut saya semasa bodoh, tapi saya memang gak pernah terlalu mementingkan kondisi fisik dan aneka tetek bengek perawatannya sampe serepot itu. Buat saya itu gak penting. Oke, mungkin penting, tapi tidak segitu pentingnya, tidak berada di daftar teratas prioritas saya.
Lagipula, sebenarnya alasan sahabat saya itu begitu ribetnya memperhatikan fisik karena ia tidak puas, merasa selalu saja ada yang kurang pada dirinya, merasa dirinya tidak ganteng, merasa dirinya tidak semenarik orang lain. Oh come on! Permasalahan disini cuma satu : kurangnya rasa syukur.
Serius, sahabat saya itu gak jelek. Tampilan fisiknya juga cukup menarik, cuma ya itu, karena kurang bersyukur, dia selalu aja merasa dirinya jelek, rambutnya kuno lah, hidungnya besar lah, tingginya kurang lah, kulitnya hitam lah, perutnya buncit lah. Aduuuuuuh, kalo dicatat satu per satu pasti akan panjang sekali catatannya!
Merawat diri itu perlu, tapi tidak perlu sampai terobsesi.
Buat apa pula sih? Toh ini badan kita, milik kita seutuhnya, jadi ya perlakukan dia dengan wajar, jangan berlebihan. Lagipula, buat apa menjadi cantik/ganteng kalau kita merasa tersiksa? Okey, cantik/ganteng memang bisa diusahakan, tapi gak segitunya kaleeeee.
Seandainya sahabat saya bersyukur dengan paket lengkap fisiknya yang ia punya, pasti keadaan tidak seribet ini. Selama semuanya baik-baik aja, tidak cacat dan masih berfungsi dengan normal, buat apa juga membuat keadaan menjadi repot karena perasaan yang belum juga puas?
Saya sendiri jujur suka bete dengan perut buncit saya ini -dan pastinya pernah iri melihat badan pria-pria atletis, tapi ya sudah cuma sebatas itu. Saya gak membuang ratusan ribu untuk membeli pelembab muka, potong rambut di salon, mewarnai rambut, membeli shampoo merk ini-itu, minum susu L-men, atau apalah. Saya ya begini-begini aja, kadang males cuci muka, kadang males sit up dan selalu memotong rambut di babershop seharga 6ribu. Yang biasa-biasa aja deh gak usah berlebihan, ini kan cuma kulit luar, yang penting itu kan dalamnya, bukan kulitnya!
Dan waktu semalam sahabat saya bilang begini ke saya ‘Elo rebonding aja rambut lo, biar banyak yang suka.”
Saya membalasnya dengan : ‘Ngapain? Emangnya gue elo?’
Lagipula, dengan rambut begini aja saya yakin kok masih ada yang suka ama saya haha
Pintu Terlarang

Pemain : Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu, Henidar Amroe, Tio Pakusadewo, Otto Djauhari, Verdi Solaiman, Atiqah Hasiholan.
Sutradara dan Penulis : Joko Anwar
Produser : Sheila Timothy
Rumah Produksi : Lifelike Pictures
Adaptasi dari novel Pintu Terlarang karya Sekar Ayu Asmara.
AKHIRNYA!
Akhirnya karya terbaru dari sineas jempolan favorit saya dirilis. Yup! Tadi malam saya menonton midnight film ini di Pondok Indah Mall, rasa penasaran saya tidak mampu ditahan hingga tanggal 22 nanti dimana film ini akan tayang reguler di jaringan bioskop tanah air. Dan semua terbayar lunas. Penasaran, ekspektasi dan kerinduan akan tontonan yang berkualitas dari sineas Indonesia terbayarkan lewat film ini.
Kita semua tau, Joko Anwar adalah seseorang yang cerdas.
Dan kecerdasannya itu kali ini dituangkan dalam satu paket berlabel Pintu Terlarang, sebuah film drama thriller yang mengesankan. Lupakan Janji Joni yang segar, singkirkan sejenak Kala yang dahsyat. Kali ini kita disuguhi cerita yang berbeda, dari dunia yang diciptakan Bang Joko berdasarkan adaptasi dari novel berjudul sama yang ditulis oleh Sekar Ayu Asmara.
Ini adalah proyek adaptasi, jadi jelas tidak plek-plek sama seperti isi novelnya, tapi pada intinya tetaplah satu, terdapat benang merah yang jelas meski versi visualnya ditambahi beberapa bagian untuk lebih menggigit penonton –serta tambahan ‘aksesoris’ khas Joko Anwar yang sudah ada sejak film pertamanya. Cerita kehidupan pematung bernama Gambir dengan sukses membawa kita pada dunia baru yang mewah, bercitarasa seni tinggi dan juga menyedihkan. Ya, cerita film ini memiliki inti yang pedih : penyiksaan, dan hal itu menjadi dasar yang membuat dunia baru Gambir terbentuk, dunia yang dibuatnya dengan selalu membuka pintu fikirannya, melewati pintu yang selama ini mengurungnya dalam sebuah ruangan sempit yang kotor. Saya sangat suka novelnya dan adaptasi Bang Joko –beserta caranya mengekskusi cerita patut diacungi jempol. Plot, permainan dialog dan karakter yang dipilih adalah pilihan yang tepat sekali.
Deretan pemain handal berakting prima. Fachri Albar –yang sepertinya menjadi aktor kesayangan Bang Joko, memperlihatkan kemampuan akting yang jauh meningkat setelah akting terakhirnya di film Kala –yang juga dibesut Joko. Di sini perubahan mimik, intonasi bicara, serta keseluruhan paket karakter Gambir bisa dimainkan Fachri dengan sangat baik. Lihat aksi brilian Fachri di bagian akhir cerita –tepatnya di scene christmast dinner yang dahsyat itu! Marsha Timothy juga mampu mengimbangi, karakter wanita high class yang memiliki dominasi terhadap suami diperankannya dengan apik. Para pemeran pendukungnya berakting sama bagusnya. Nama-nama seperti Tio Pakusadewo, Henidar Amroe, Ario Bayu, Otto Djauhari dan Verdi Solaiman dapat memperlihatkan kemampuan akting prima mereka dan tidak kalah dengan pesona Ai atau Cacha. Sekali lagi, pujian terbesar layak diberikan pada Fachri Albar. Salut untuk kematangan aktingnya di sini
Seperti juga di Kala yang sangat indah dan artistik, Pintu Terlarang juga memberikan hal serupa.
Sebuah setting dengan tata artistik yang memukau sukses dibuat oleh Wensisclaus –yang juga menjadi art director film Kala. Kesan mewah, art banget dan juga kelam dihadirkan lewat tata artistiknya yang memang jempolan banget –memiliki jiwa. Aneka macam billboard dengan kalimat-kalimat provokatif yang oke, rumah keluarga Gambir yang terlihat cozy, setting Homesase yang gelap dan misterius, dan printilan-printilan bergaya seni lainnya menjadikan film Pintu Terlarang sebagai sebuah karya seni yang indah.
Oh ya, coba perhatikan opening scenenya, unik dan berbeda dari film Indonesia kebanyakan, kita dibawa seperti sedang menonton salah satu film James Bond yang sudah memiliki ciri khas dengan opening yang sejenis. Jangan sepelekan tata suara dan tata musik film ini yang semakin membuat matang Pintu Terlarang. Soundtrack film ini asik banget nih! Wajib dikoleksi album soundtracknya karena memang lagu-lagunya yang sangat enak didengar.
Meski ada beberapa pertanyaan yang belum sempat terjawab.
Meski ada bagian yang menurut saya kurang terisi. Film ini tetaplah layak mendapatkan apresiasi yang baik, jangan sampai seperti Kala yang sangat berhasil dari sisi kualitas tapi tidak bertahan lama di bioskop karena kekurangan penonton.
Sekali lagi, Joko Anwar tai kucing! Sumpah ya, tuh orang otaknya terbuat dari apa sih?
Hasil Akhir :
Jika kamu penggila karya Joko Anwar –seperti saya, film ini WAJIB SEKALI untuk ditonton. Rasakan suasana baru yang ditawarkan dari sineas tanah air. Film ini adalah awal yang bagus untuk mengawali deretan film-film Indonesia berbobot di tahun 2009 –semoga saja setelah ini masih ada banyak lagi film dengan kualitas secermelang Pintu Terlarang.
4,5/5
Unfaithful

Pemain : Diane Lane, Richard Gere, Olivier Martinez
Sutradara : Adrian Lyne
Produksi : Fox 2000 Pictures & Regency Enterprises
Perselingkuhan. Tema yang sangat menarik bukan? Perselingkuhan adalah satu bagian dari permasalahan cinta yang tidak akan pernah habis untuk dibahas. Berbagai tipe perselingkuhan sudah sering sekali dipaparkan melalui cerita, baik melalui novel atau film. Dan kali ini, film Unfaithful juga menyajikan cerita sejenis. Sebuah cerita perselingkuhan yang dipaparkan dengan intens, berapi-api dan berakhir pedih.
Connie Sumner (Diane Lane) adalah seorang ibu rumah tangga biasa yang bersuamikan seorang pria tampan bernama Edward Sumner (Richard Gere) serta memiliki seorang putra bernama Charlie Sumner (Erick Per Sullivan). Suatu hari, di hari yang begitu kacau karena serangan badai, Connie bertemu dengan Paul Malter (Olivier Martinez), seorang penjual-pembeli buku yang muda dan tampan. Pertemuan itu menyisakan kesan yang mendalam untuk Connie, dan sesudahnya ia pun kian penasaran dengan sosok Paul yang berbeda dengan Edward. Keunikan Paul, keseksian Paul dan keberanian Paul membuat Connie semakin jauh melangkah, mengkhianati Edward. Dari awal Edward sudah curiga dengan perubahan yang terjadi pada diri Connie. Edward pun menyewa seseorang untuk mengikuti Connie dan akhirnya mengetahui bahwa istrinya ini berselingkuh. Setelah memiliki bukti yang cukup, Edward datang ke apartemen Paul, mengajaknya berbincang dan pada akhirnya –karena tidak bisa menahan emosi, ia membunuh Paul.
Cerita yang simpel.
Simpel tapi dituturkan dengan pas, porsinya tepat dan enak untuk diikuti. Walau sebenarnya alasan Connie berselingkuh dengan Paul tidak terlalu dipaparkan dengan jelas, walau sebenarnya di beberapa bagian ada yang membuat bertanya karena pemaparannya yang kurang detail, film ini tetap menyajikan cerita yang enak untuk diikuti. Khas drama percintaan dengan komponen yang lengkap. Kehidupan keluarga Sumner yang awalnya baik-baik dan pada akhirnya berubah ketika Connie bertemu dengan Paul diceritakan dengan intens, tidak bertele-tele, dan itu membuat saya sebagai penonton betah karena film ini tidak diisi dengan basa-basi yang cenderung gak penting.
Akting pemainnya jempolan.
Diane Lane cantik deh! Akting tante yang satu itu juga bagus banget. Ekspresinya itu juara! Mulai dari ekspresi jatuh cinta- cemas – takut – getir – bahagia – marah, semua diperlihatkan dengan maksimal. Richard Gere juga begitu, ia mampu memerankan Edward yang berwibawa dan terlihat tua dengan baik. Dan Olivier Martinez sebagai si selingkuhan, lihai banget memerankan cowok charming dan player kelas kakap yang jempolan. Intinya, ketiga pemeran utamanya berakting dengan baik. Chemistry Lane dengan kedua lelaki di film ini juga patut diacungi jempol.
Yang menjual dari film ini ya chemistry Lane dengan Martinez, entah kenapa di beberapa bagian keduanya terlihat begitu menyatu dan bersinar. Lane dan Gere sebenarnya juga oke banget, cuma tidak sekinclong ketika Lane bersama Martinez. Oh ya, ending film ini asik deh, ditutup dengan dialog yang manis tentang rencana Connie dan Edward, dimana suasana serta dialognya sendiri memang ‘megang’ banget.
Jika dirangkum menjadi satu kata, Unfaithful pantas disebut dengan kata : sadis.
Sehari di Jakarta!
Di beberapa entry lalu, saya sekilas udah cerita tentang perjalanan libur sehari saya bersama Kinjie, Sam, Aldo dan Aldi. Nah kali ini saya mau cerita versi lengkapnya
Jadi, tanggal 9 Januari kemarin, pagi-pagi saya udah ke rumah Kinjie karena rencananya mau berangkat jemput Aldi-Aldo di Bogor dulu. Jadilah jam 8 kita berangkat ke Bogor, bertiga, perjalanannya lancar banget dan diisi dengan ngobrol-ngobrol sekaligus dengerin Gen FM yang hari muter lagu Aku Pasti Kembali dan Nuansa Bening mulu hehe. Gak sampe jam sembilan, kita udah sampe Bogor, gak pake basa-basi dulu, Aldi-Aldo langsung naik mobil dan kita pun langsung balik ke Jakarta lagi.


Di mobil, saya berusaha mencairkan suasana, nanya-nanya gak penting -dan akhirnya terkaget-kaget dengan jurusan kuliahnya si Aldi haha. Di Jakarta, tujuan pertama ke UI, si Kinjie mau bernarsis ria memamerkan kampusnya, yasuwd di UI berasa lagi tur, dikenalin gedung fakultas satu per satu. Abis dari UI, balik ke rumah Kinjie, sholat Jumat dulu trus makan siang bareng. Selesai makan siang, tujuan selanjutnya ke Grand Indonesia, cuma mampir doang sih karena gak tau juga mau ngapain, akhirnya malah cuma foto-foto aja dan gila-gilaan bareng.


Selesai dari GI, berhubung Aldi-Aldo belom pernah ke Monas akhirnya kita ke sana, dan sumpah ya mau parkirnya aja susah banget karena kelewatan pintunya, jadi harus muter lagi. Di Monas, langsung foto-foto! Bernarsis ria di depan tugu kebanggaan Jakarta itu -sampe diliatin orang-orang pula. Selesai foto-foto, masuklah ke Monas, bayar tiket terusan seharga 7500 dan antre untuk naik ke puncak monas. Antrenya lama! Sampe kegerahan dan berkeringat. Capek-capek antre, di puncak monas juga cuma sebentar karena rame dan bingung juga mau ngapain. Turunlah kita ke bagian cawan, santai-santai bentar menikmati angin. Naaaah di cawan ini ada yang lucu banget! Jadi ada dua bapak-bapak, berdiri berdekatan dan berfoto bareng mulu -selama kira-kira 10 menit di cawan, dua bapak itu berfotooooo mulu, dengan gaya dan ekspresi andalan mereka yang gak berubah dari awal sampe akhir. Puas tertawa di cawan, kita turun, bermaksud pulang dan kesasar saat cari tempat parkir, mana kereta monasnya udah selesai beroperasi pula! terpaksalah jalan kaki sampe betis pegal dan badan berkeringat.


Sampe mobil, bingung mau makan malam dimana dan akhirnya memutuskan untuk makan di Bakmie GM Sarinah. Makan malam sambil ngobrol-ngobrol lagi, trus liat-liat foto dan tertawa bareng mengingat duo bapak gaul di cawan Monas. Selesai makan, langsung cabut ke Bogor dan seperti biasanya jalanan Jakarta macet banget! Untungnya lewat dari Cawang macet selesai, jalan tol lancar, dan sampailah kita di Bogor.
Satu hari yang menyenangkan!
Yes Man!

Pemain : Jim Carrey, Zooey Deschanel, Bradley Cooper, Sasha Alexander
Sutradara : Peyton Reed
Jim Carrey kembali! Si jagoan komedi ini kembali dengan aksi konyolnya lewat sebuah film berjudul Yes Man. Cerita film ini berpusat pada Carl (Carrey), seseorang yang hidupnya seperti mentok disitu-situ saja dengan rutinitas yang begitu-begitu saja. Carl selalu berkata tidak pada semua hal dan itu membuatnya menjadi sosok yang dingin, bahkan terkesan anti sosial. Suatu hari, berkat rekomendasi seorang teman, Carl mengikuti sebuah seminar yes is the new no, di seminar itu Carl membuat sebuah perjanjian suci dimana ia harus berkata YES terhadap semua hal, dan jika Carl tidak berkata YES, berbagai kesialan akan menimpanya.
Saya suka ceritanya, sisi moral film ini bagus sekali, menghibur sekaligus juga berisi dan ‘padat’
Tidak hanya menyajikan kelucuan-kelucuan yang hadir lewat sisi komikal Carrey yang memang juara banget, film ini menempatkan sisipan pesan moral yang pas dan tidak menggurui. Dari segi akting, Carrey masih tetap jempolan dan di film ini dia bisa menjaga muka komikalnya untuk tidak terlihat berlebihan. Mungkin karena pengaruh usia, di film ini Carrey terlihat menua, kerut-kerut di wajahnya kok jadi banyak banget ya? Zooey Deschanel sebagai love interest Carl juga berakting dengan oke, lucu banget melihat wajah innosen Zooey yang di film ini terlihat makin cantik dengan pakaian-pakaian yang sangat fashionable. Chemistry Carrey dan Zooey juga cukup terjalin dengan apik.
Yang ingin menyaksikan tontonan menghibur sekaligus berisi, silahkan tonton film ini
Tentang Saya
Halo teman-teman semua!
Berkaitan dengan data diri yang akan saya kirim ke Gen FM, bisa minta bantuan kalian gak? Tolong dooong bantu saya untuk menuliskan :
- Satu kata yang menggambarkan Haqi adalah?
- Pendapat kalian tentang Haqi adalah?
contoh :
- Satu kata yang menggambarkan Haqi adalah : gila
- Pendapat kalian tentang Haqi : Haqi itu orangnya asik, kreatif, blablabla -dan seterusnya.
Via komen boleh banget kok ![]()
Terimakasih ya teman-teman semuanya
Dian Sastrowardoyo, candid!
