Home > Buku > Pintu Terlarang

Pintu Terlarang

Oh yess! Saking penasarannya dengan film Pintu Terlarang yang dibuat Joko Anwar dan akan dirilis Januari nanti, saya akhirnya membaca novel Pintu Terlarang, sebuah novel thriller yang ditulis oleh Sekar Ayu Asmara dan diadaptasi Bang Joko dalam bentuk visual.

Oh yess! Ini memang bukan sembarang novel. Pantas saja Bang Joko tertarik mengadaptasinya ke film. Ini memang bukan novel biasa. Sekar Ayu Asmara adalah penulis brilian. Novel bergenre thriller ini benar-benar bernuansa dark, membuat penasaran dan juga penuh dengan kejutan-kejutan yang menurut saya brilian.

Novel ini dibagi menjadi tiga kisah.
Pertama, kisah seorang anak berumur sembilan tahun yang selalu disiksa orangtuanya. Anak ini mengalami penyiksaan dari bermacam sisi, fisik dan psikisnya rusak karena orangtuanya. Siksaan demi siksaan membuat si Anak tersiksa dan pada akhirnya dia membuat keputusan nekat untuk mengakhiri semua penderitannya. Kedua, kisah seorang pematung bernama Gambir. Gambir hidup bersama istrinya, Talyda, yang mengagungkan kesempurnaan. Sebagai suami, Gambir adalah suami yang begitu menyayangi istrinya, semua kemauan Talyda ia ikuti, termasuk keinginan Talyda untuk tidak memiliki anak. Tapi dibalik sikap manis Talyda, istrinya ini menyimpan rahasia, selain merahasiakan sebuah pintu terlarang yang ada di dalam studio Gambir, Talyda juga menyimpan ‘proyek’ rahasianya yang ia lakukan bersama Ibu Gambir. Ketiga, kisah tentang jurnalis wanita bernama Ranti yang sedang menggarap kasus mengenai orang sakit jiwa di sebuah RSJ di bilangan Puncak. Di proyek ini Ranti bekerjasama dengan Dion, fotografer yang akhirnya menjadi pacarnya. Ranti begitu larut dalam penelitiannya tentang berita yang akan ia garap, di sisi lain ia juga terlibat percintaan dengan Dion, seorang duda yang sudah memiliki seorang anak bernama Edo.

Sadis.
Oh yess! Dari halaman pertama novel ini saja sudah menawarkan ketegangan yang membuat ngilu. Membaca lembar demi lembar halaman Pintu Terlarang adalah sebuah perjalanan yang sangat mengasikkan. Memabukkan. Membuat penasaran dan tidak mau berhenti. Kisah yang berjalan intens, dibumbui kejutan serta kalimat-kalimatnya yang tersusun dengan apik membuat novel ini bukan sembarang novel.

Padu padan kata. Padu padan karakter. Padu padan cerita. Tiga hal ini dilakukan Sekar Ayu Asmara dengan sangat pas. Begitu pas hingga saat mendapati akhir cerita yang di luar dugaaan saya bisa tersenyum sekaligus merinding ngeri. Saya tersenyum karena dapat menikmati bacaan berkualitas ini dan saya merinding ngerti karena akhir ceritanya memang mengenaskan.

Sebuah novel brilian.
Gak sabar menyaksikan versi visualnya tanggal 22 Januari nanti! Saya percaya Joko Anwar akan membuat filmnya sebagus novelnya, bahkan mungkin lebih baik.

  1. November 18, 2008 at 5:25 pm | #1

    argggh gw jadi penasaran. pinjem ama sapa ya? *miskin

  2. November 18, 2008 at 5:27 pm | #2

    argggh gw jadi penasaran. pinjem ama sapa ya? *miskin

  3. JJ
    November 20, 2008 at 8:31 am | #3

    wah, menarik…
    …boleh pinjem?
    hehehehehe. *pelit*
    Gimana sinopsis, udah jadi? Kemarin gue udah sempet cerita sekilas juga, pas ketemu..

    booow, gue aja minjem di Zoe hahahaha, udah lama gue gak beli bacaan :)
    BELOM JADI MBAK. kayaknya gue emang perlu refreshing dulu.
    eh ya? trus Mbak Dee bilang apa?

  4. November 23, 2008 at 4:21 pm | #4

    Wah banyak yang ngomongin ttg film Pintu terakhir.. jadi penasaran pengen nonton!

    Oya, gw ada post baru nih.. mampir2 ya. thx.

  1. No trackbacks yet.