Kapan terakhir kali kamu berekreasi? Aku sudah lama sekali.
Kapan ya? Bahkan aku pun tidak mengingatnya. Aku benar-benar lupa. Ya. Benar-benar lupa karena sepertinya memang sudah lama sekali. Rekreasi terakhirku seperti apa aku tidak ingat, bersama siapa aku juga tidak ingat.
Melihat sekeluarga yang baru berekreasi di Ragunan membuat aku ingin! Aku ingin rekreasi. Aku ingin sekali ke Ragunan atau Taman Mini Indonesia Indah! Oh my, bahkan kedua tempat itu tidak begitu jauh dan sangat mudah untuk dijangkau! Sepertinya akan sangat menyenangkan untuk menghabiskan waktu dengan melihat binatang atau berkeliling mendatangi berbagai macam anjungan, bersenang-senang sambil menambah pengetahuan.
Tidakkah bosan mencari hiburan di mall?
Mall menawarkan suasana yang memicu kita untuk menjadi konsumtif. Hiburannya mahal! Mau nonton harus mengeluarkan uang untuk membeli tiket, belum lagi uang untuk beli popcorn dan minuman! Selesai nonton sudah pasti lapar, lalu rasanya pasti enak kalau bisa ngobrol sembari ngopi-ngopi dengan teman karib, bisa lebih seru kalau dilengkapi dengan belanja. Coba hitung berapa banyak uang yang habis dalam satu kali kunjungan ke mall?
Tapi memang mall adalah sarana hiburan yang paling laku. Ratusan orang mendatanginya tiap hari. Konsep one stop entertainment yang ditawarkannya memang memenuhi target dan sukses menjaring manusia-manusia Jakarta yang harus akan hiburan, penat akan kegiatan sehari-hari. Aku pun secara tidak sadar menjadi bagian dari manusia itu, ada waktu senggang kabur ke mall, nonton di bioskop, makan di restoran kesayangan, memburu DVD bajakan, pergi ke toko buku atau cuma sekedar jalan-jalan membuat betis pegal, semua dilakukan di satu tempat bernama mall.
Ragunan dan TMII
Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendatangi kedua tempat itu. Rindu rasanya menghabiskan waktu dengan melihat aneka macam binatang, pasti seru sekali melihat tingkah polah mereka, memberi makan binatang-binatang itu pasti memberikan pengalaman menarik yang unik. Berkunjung ke berbagai anjungan yang menawarkan informasi berbagai kebudayaan dalam negeri, masuk ke museum yang memberikan banyak informasi dan tentunya puluhan hiburan juga tersedia di miniatur Indonesia yang bisa ditempuh hanya 1x naik angkutan umum dari rumahku! Aaaaaah tapi kenapa susah sekali untuk menuju ke sana?
Mungkin karena sendirian?
Beberapa teman yang ku ajak pergi menolak sambil mengerutkan kening. Mau ngapain? Itu adalah pertanyaan langsung terlontar dari mulut mereka. Mereka pun menawarkan alternatif hiburan lain, Dufan misalnya, aah aku tidak suka Dufan! aku mau ke Ragunan atau TMII!
Yuk yuk ke sana!



Oh yess! Saking penasarannya dengan film Pintu Terlarang yang dibuat Joko Anwar dan akan dirilis Januari nanti, saya akhirnya membaca novel Pintu Terlarang, sebuah novel thriller yang ditulis oleh Sekar Ayu Asmara dan diadaptasi Bang Joko dalam bentuk visual.