Archive for October 2008
Sudah dapat apa?
Februari 2009 umur saya 19 tahun. Saya terus berhitung. Melakukan perhitungan yang belakangan menghantui fikiran saya. Sebuah pertanyaan simpel namun begitu menggelitik :
Sudah dapat apa? Apa yang sudah saya dapat? Apa yang sudah saya hasilkan? Apa?
Pertanyaan itu bagaikan racun. Bagaikan hantu. Menghantui saya. Membuat saya merasa dikejar, ditagih dan pada akhirnya membuat saya sadar bahwa saya memang belum dapat apa-apa.
Di bidang tulis menulis, dimana saya sudah berkoar-koar ingin menjadi penulis sejak saya masih duduk di bangku SMP, belum ada satu pun karya yang selesai dengan baik, diterbitkan dan membuat saya layak menyandang gelar penulis, penulis yang sesungguhnya, bukan penulis jadi-jadian kayak sekarang. Novel? Berpuluh-puluh draft sudah saya tulis, puluhan kehidupan imajiner sudah saya bangun dalam bentuk cerita, tapi tidak pernah selesai, selalu begitu, dari dulu. Cerpen? Cukup sebuah cerpen hasil iseng dengan kualitas yang dipertanyakan dan dengan honor yang tidak pernah saya terima -entah ada kesalahan dimana, pihak majalah terkait bilang sudah ditransfer tapi Ayah saya (yang kebetulan mengurus pembayaran honor tersebut) bilang belum masuk, selebihnya? belum ada lagi cerpen saya yang dipublikasikan di media lain.
Di bidang pendidikan? Nol besar. Masa SMA saya tidak berjalan dengan baik. Cap berprestasi, anak pintar dan siswa teladan bukan milik saya. Seantero sekolah mengenal saya sebagai si raja bolos, tukang cabut, langganan remedial dan pasien rutin di ruang bimbingan konselling. Lulus SMA pun saya merasa cuma lulus aja, tanpa ada prestasi, tanpa ada sebuah kebanggaan membumbung atas sebuah prestasi yang saya dapat. Saya tidak menyesal. Cuma kecewa. Saya kecewa karena saya tidak cukup dewasa untuk menyikapi berbagai masalah yang ada ketika saya SMA, memilih untuk kabur dan melangkah di jalan pintas dengan sering bolos sekolah, menjadi anak bandel, dan pada akhirnya membuat saya dikenal sebagai siswa bermasalah. Sedih? Itu pasti. Tidak pernah terbayang di benak saya bahwa masa SMA saya akan seperti itu. Penuh gejolak. Konflik. Dan berujung dengan menumpuknya stress, hampir depresi dan aneka macam sesi dengan guru bimbingan konselling. Kalau bisa memutar waktu saya pasti akan mencoba mengisi masa SMA saya dengan lebih baik, dengan hal-hal yang jauh lebih berguna dari sekedar bolos sekolah untuk melepaskan stress, dengan belajar yang giat atau aktif di kegiatan sekolah. Tidak dengan dikenal sebagai Achmad Baihaqi yang menjadi bahan gossipan guru-guru karena segambreng masalahnya yang tidak pernah habis.
Iri. Saya kerap kali iri melihat teman-teman saya yang berprestasi, yang dengan usia belia sudah mengukir berbagai prestasi mengagumkan. Melihat mereka membuat saya jatuh, itu bukan hal yang jarang terjadi, frekuensinya cukup sering. Saya iri melihat mereka. Dan saya ingin seperti mereka. Muda & berprestasi, bukankah itu begitu hebat?
Oktober sudah hampir habis, kemudian lanjut ke November, Desember, Januari sampai akhirnya datanglah Februari, tanggal 27, ulang tahun saya. Masih ada waktu. Saya yakin masih ada waktu untuk saya. Masih ada waktu untuk mengukir prestasi. Mungkin dengan segera menyelesaikan plot dan sinopsis Bukan Idola, mengukir jalan menjadi penulis skenario dengan baik hingga akhirnya saya benar-benar bisa menuju ke sana. Novel? entahlah, saya masih terus bermimpi untuk menjadi novelis, tapi tidak sengoyo dulu, nulisnya pelan-pelan, tanpa buru-buru karena saya tau semangat menggebu di awal biasanya tidak permanen hingga ke akhir. Dan di bidang pendidikan? Kuliah jurnalistik tahun depan bisa menjadi salah satu jalan yang menyenangkan.
Saya mau beberapa tahun lagi datang ke SMA 28 dan membuat guru-guru disana bangga. Saya mau mereka melihat saya sebagai sosok berprestasi. Sosok yang bisa mengejar impiannya, dengan caranya sendiri. Sosok yang bukan lagi anak bermasalah yang hampir depresi, tapi seorang pemuda yang mau berjuang untuk mengukir prestasi. Semoga jalan untuk ke arah sana dapat saya lalui dengan mudah. Amien.
Terlalu pintar untuk menonton Sinetron
Sebagaimana kita tahu, persaingan dunia televisi Indonesia sudah sampai di taraf yang buat saya tidak sehat. Masing-masing dari stasiun televisi berlomba-lomba menjaring penonton terbanyak di saat prime time dengan program unggulan berupa sineton strippin. Entah kapan dimulainya, kini dua stasiun televisi yang paling getol memutar sinetron strippin tiap malam seperti punya jadwal permanen untuk memutar program unggulannya itu. Mulai dari jam enam sore hingga tengah malam.
RCTI memulainya dengan memutar Aqso & Madina (sinetron Ramadhan yang gak habis-habis padahal Ramadhan udah selesai hampir sebulan), Cinta SMA (yang mengekspos kelucuan seorang Baim, harusnya judulnya Cinta Baim, bukan Cinta SMA), Khanza (yang makin gak jelas aja) dan ditutup dengan Yasmin (sinetron favorit Ibu saya karena menampilkan Nabilla Syakieb & Richard Kevin)
SCTV melawan RCTI dengan memutar Cinta Intan, Karissa dan Melati Untuk Marvell (ketiga sinetron ini gak pernah saya tonton sama sekali)
Selama lebih kurang 4 jam -bahkan kadang lebih, masyarakat Indonesia (khususnya Ibu-Ibu) dicekcoki drama mendayu-dayu dan menguras air mata ala sinetron Indonesia, yang tentunya semua serba dilebih-lebihkan, tidak wajar.
Jujur aja. Dulu waktu kecil saya adalah penikmat sinetron. Saat saya SD setelah nonton Dunia Dalam Berita, dilanjutkan Tuyul & Mbak Yul atau Jin dan Jun, saya akan melanjutkan menonton televisi untuk menyaksikan sinetron-sinetron, judul-judul yang masih saya ingat antara lain : Cinta, Jangan Ucapkan Cinta, Panji Manusia MIllenium, Tersanjung, Tersayang (inget kan dulu topi tersayang happening banget?), Terpikat, Terpesona, Noktah Merah Perkawinan, Dewi Fortuna, Waah Cantiknya, Si Doel Anak Sekolah, Keluarga Cemara dan lain-lainnya.
Ya. masa kecil saya terisi dengan mengikuti sinetron-sinetron di atas, tapi buat saya dulu sinetron adalah tontonan yang masih dapat dibilang menyenangkan, masih bisa menghibur dan membuat penasaran dengan jalinan ceritanya yang tidak terlalu didramatisir. Lebih dari itu, dulu sinetron tayangnya seminggu sekali, jadi ada jeda waktu yang membuat kita penasaran untuk mengikuti lanjutan ceritanya, tidak seperti sekarang yang tayangnya tiap hari dan jatohnya malah membuat bosan.
Dan lagi, sinetron-sinetron dulu diisi oleh pemain-pemain hebat dengan akting yang maksimal, sebut saja Dessy Ratnasari, Ari Wibowo, Maudy Koesnaydi, Paramitha Rusadi, Anjasmara, Jihan Fahira, dll. Sekarang? Artis-artis karbitan gak penting menghiasi layar televisi. Muka-muka baru dengan kemampuan akting yang tidak bagus bermunculan tiap hari. Yang penting cantik/ganteng, kualitas dinomerduakan. Miris.
Dan yang membuat sinetron sekarang semakin menyebalkan adalah jalan ceritanya yang sangat mudah tertebak, bertele-tele, terlalu didramatisir dan cenderung tidak masuk akal. Kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat sulit terjadi di dalam sinetron. Penderitaan dan air mata adalah syarat mutlak sebuah sinetron, saat ini.
Maka itu ketika semalam menemani Ibu saya menonton Yasmin dan ada adegan dimana Yasmin dan Alvino menikah saya langsung nyeletuk : “Palingan gak akan lama bahagianya, paling nanti ada yang kecelakaan, dianggap mati trus tiba-tiba entah kapan muncul lagi karena ternyata dia gak mati.” Sebuah standar sinetron Indonesia banget kan? Dianggap meninggal tapi tiba-tiba blasssst! di episode ke sekian dia datang lagi karena ternyata dia tidak mati, cuma mengalami luka-luka, dirawat seseorang di desa yang ternyata mencintainya -ooooooh dramatis sekali
Dulu sineton adalah hiburan.
Sekarang sinetron adalah pembodohan. Dan saya merasa terlalu pintar untuk menonton sinetron. Kalo saya udah tau ceritanya akan seperti apa buat apa masih ditonton? Matikan televisi, atau ganti channel. Habis perkara.
Sang Putri
Minggu lalu, di acara premiere Gara-Gara Bola saya bertemu Agni Pratistha, sang putri Indonesia yang cantik jelita. Ini adalah kali pertama saya bertemu dengannya, melihatnya secara langsung dan ternyata dia benar-benar mempesona, cantik sekali layaknya seorang putri di negeri dongeng.
Saya yang bingung mau ngapain -tadinya saya diminta Mas Aga untuk foto-foto sebagai bahan publikasi sekaligus arsip untuk Nation Pictures, tapi saya agak malas dan kebetulan wartawannya ramai sekali, akhirnya malah kayak orang linglung. Mondar-mandir di Blitz kayak anak hilang.
Sampai akhirnya saya melihat Agni. Subhanallah, cantik! Dan saya pun langsung minta foto. Permintaan foto pertama cuma diisi kalimat permisi dari saya dan kalimat persetujuan dari Agni, sudah. Klik! Fotonya jadi.
Setelah itu tadinya saya mau foto-foto para pemain, tapi sekali lagi, saya malas berdempet-dempetan dengan para wartawan. Akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Nah waktu saya berjalan menuju elevator, berpapasan lagi dengan Agni yang kali ini tidak sendiri, bersama Herjunot Ali, pacarnya. Saya pun kembali meminta foto.
Saat saya sedang menyiapkan kamera Agni berkata : “Kayaknya gue pernah liat muka elo deh.”
Hah? Saya kaget. Gak kebalik? Yang artis siapa ya? Dalam hati saya berkata seperti itu. “Hah? Masa’ sih?
Dimana?” saya pun bertanya
Agni berfikir sejenak. “Elo yang ngeblog itu bukan sih?”
“Heh? Blog?”
“Iya. Yang jemari-jemari apa ya? Jemarimenari?” Agni bertanya ragu-ragu
Saya tersenyum dan mengangguk. “Eh? Agni mampir ke blog gue? Ngapain?”
“Iya kemarin ada riset untuk Cosmogirl.”
“Ooooh. Sering-sering dong main ke blog gue heheheh.” Saya tetap berpromosi.
Blog saya dikunjungi putri! Wow. Keren banget gak sih? -norak hahahaha.
Berhenti berharap -Marcell Siahaan
Soundtrack hidup belakangan ini. Sebuah lagu indah yang dibawakan oleh Marcell Siahaan, salah satu penyanyi favorit saya.
Dulu ku tak pernah percayakan cinta
Yang tak harus memiliki
Pernah ku paksakan walau tak sejalan
Meski ku tahu ku salah
Dan ku coba melupakanmu
Karena ku tahu kau bukan milikku
Dan ku berhenti berharap
Akan cinta mu yg dulu ada di hati
Dan ku coba tuk bertahan
Walau berat kini ku berhenti
Berharap…
Kini ku akui hatiku tak bisa
Selalu miliki dirimu
Pernah ku paksakan walau tak sejalan
Meski ku tahu ku salah
Dan ku coba melupakanmu
Karena ku tahu kau bukan milikku
Dan ku berhenti berharap
Akan cinta mu yg dulu ada di hati
Dan ku coba tuk bertahan
Walau berat kini ku berhenti
Berharap…
Curhat
Manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, berbagi adalah salah satu hal yang wajar untuk kita, sebagai manusia, sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Salah satu hal yang menjadi permasalahan dalam kehidupan adalah sebuah masalah. Dan masalah bisa menimpa siapa saja. Untuk itu sebagai makhluk yang senang berbagi, para manusia kerap membagi masalah yang menimpanya dalam sebuah sesi yang kita kenal dengan nama curhat, curahan hati.
Ada banyak cara untuk curhat. Ada banyak media yang bisa dipakai untuk berkeluh kesah dan menceritakan masalah. Semua tergantung individu masing-masing, merasa nyaman lewat media yang mana dan merasa tersalurkan kalau berbicara dengan siapa, itu kembali pada pilihan orangnya. Saya pribadi memilih curhat dengan sahabat. Beberapa orang terpilih yang saya percaya dapat menyimpan cerita saya rapat-rapat, untuk konsumsi terbatas, bukan untuk diketahui khalayak ramai.
Beberapa sahabat saya sudah hafal dengan permasalahan yang biasa saya angkat dalam sesi curhat. Mungkin karena mereka sahabat-sahabat saya jadi sosok saya terlihat begitu transparan, atau mungkin karena mereka sudah mengenal saya dengan sangat baik jadi kadang ketika sesi curhat belum dimulai mereka sudah tau topik apa yang akan saya keluh kesahkan. Curhat dengan sahabat adalah sebuah sesi dimana saya bisa melepaskan masalah, melepaskan topeng yang biasa saya pakai, bercerita sampai mulut berbusa kemudian merasa tenang karena mendapat perhatian serta ditutup dengan sebuah penyelesaian, pemberian saran. Ya. Selain untuk melepaskan stress karena bertumpuknya masalah dengan menceritakannya pada mereka, saya juga butuh pendapat, saran-saran jitu yang sekiranya bisa menyelesaikan masalah saya, membuat beban saya berkurang.
Bagaimana sesi curhat kamu?
Mungkin ada yang merasa lebih nyaman untuk menulis, curhat di diary atau malah di blog. Saya gak pernah nulis diary -ya iyalah, masa cowok nulis diary. Tapi kadang saya sering curhat colongan di blog. Tapi kemudian saya sadar, blog bukan media yang baik untuk saya curhat karena secara tidak langsung dengan saya menuliskan masalah saya di blog, saya membuka pintu bagi siapa saja untuk mengetahui masalah saya, mengetahui problem saya dan sialnya saya tidak tau siapa saja mereka yang membaca blog saya dan pada akhirnya mengetahui masalah saya. Untuk itu kini saya mencoba dengan tidak terlalu sering curhat di blog mengenai masalah pribadi, khususnya masalah percintaan dan keluarga, cukuplah mengenai pekerjaan dan keseharian saya yang saya tulis di blog, untuk masalah pribadi biarkan saya serahkan pada sahabat-sahabat setia saya.
Lain lagi ada yang merasa nyaman untuk curhat ke orangtua. Wow. Jujur saya kagum pada orang-orang ini yang bisa membuka diri dengan baik pada orangtua. Hari gini berapa banyak sih anak dan orangtua yang masih memiliki waktu untuk berbagi cerita? Berbicara dari hati ke hati? Jarang banget kan? Meski tidak memungkiri bahwa hal itu masih mungkin terjadi, tapi realitanya cerita ke orangtua itu bukanlah hal yang gampang. Kita sebagai anak harus memposisikan diri sebagai anak. Dan mereka sebagai orangtua ya memposisikan diri sebagai orangtua. Padahal menurut saya, konsep bercerita dengan orang lain itu tidak demikian. Kita duduk bersama dalam tingkatan yang sama. Saya sebagai pencerita dan kamu sebagai pendengar, tidak perduli apa status kamu. Susahnya curhat ke orangtua adalah mereka kadang tidak bisa melepaskan status sebagai orangtua, dominasi sebagai orangtua akan tetap ada, bertahan, dan hal itu malah membuat anak jengah, merasa terhakimi.
Dan ada pula orang yang merasa nyaman dan damai dengan curhat pada Tuhan. Bercerita. Membagi masalah. Menangis. Berdoa. Indah sekali ya? Tuhan selalu ada untuk kita dan ia pun mau mendengar curhatan kita kapan saja, dimana saja, bahkan Dia bisa memberi kita sebuah penyelesaian yang baik apabila kita mau berdoa, bersabar dan berusaha. Tuhan tidak mungkin ember. Ia akan menyimpan rapat masalah kita. Hanya kita dan Tuhan yang tau, itu kelebihan curhat dengan Tuhan, tidak perlu takut masalah kita akan bocor kemana-mana -dalam persahabatan bukan tidak mungkin hal ini akan terjadi, dimana persahabatan bisa saja rusak dan status sahabat bisa berubah secepat kilat menjadi pengkhianat-. Kemarin saya baca di sebuah majalah, Andhara Early adalah tipe manusia tipe ini, manusia yang memilih untuk bercerita pada Tuhan. Saya? Jujur saya jarang cerita pada Tuhan. Saya tipikal manusia kurang ajar yang akan datang ke Tuhan apabila masalah saya sudah begitu banyak dan saya sudah tidak sanggup lagi, kalau hal itu terjadi barulah saya mengadu pada Tuhan. Buat saya Tuhan itu spesial, dan Dia berhak mendapatkan cerita yang spesial pula, curahan hati yang berbeda kelasnya.
Kalau kamu sendiri bagaimana? Biasa curhat dengan siapa?
Mieke Asmara!
Sudah nonton Gara-Gara Bola? Kalau sudah pasti familiar dengan Mieke Asmara, sang penyanyi rap-dangdut pertama di Indonesia. Ini video klip Mieke Asmara yang fenomenal itu, sungguh sangat amat menghibur siapa saja yang melihatnya. Belum mengenal Mieke Asmara? Silahkan tonton Gara-Gara Bola untuk berkenalan dengan sosoknya
Fokus
Semalam sinopsis Bukan Idola selesai. Alhamdulillah. Kebetulan sekali semalam saya bisa lancar menulis, menyelesaikan sinopsis kemudian dilanjutkan dengan mulai membuat plot cerita, yang baru, dengan bahan-bahan dari riset Starbucks, ide cerita dari Pak Delon Tio, kemudian dicampur dengan imajinasi saya.
Sedang mencoba untuk fokus menyelesaikan pekerjaan ini. Sedang mencoba untuk menulis teratur supaya nanti saat deadline datang pekerjaan ini sudah beres, amien. Besok proses syuting dimulai, semoga bisa berjalan lancar, tanpa hambatan.
Maaf cuma nulis seiprit begini. Mau lanjutin nulis dulu yaa
Hujan
Hari ini hujan, menyenangkan sekali melihat langit menangis, memberikan hadiah untuk bumi berupa titik-titik air dalam skala yang besar, yang membuat hujan kali ini tidak masuk golongan gerimis, tapi masuk dalam kategori hujan besar, lengkap dengan petir yang menyambar-nyambar.
Saya menyukai hujan. Tentunya bukan hujan dengan petir yang menyambar buas, saya jelas tidak menyukai itu. Saya menyukai hujan yang damai, yang titik-titik airnya turun dengan indah, tanpa perlu dilengkapi dengan petir. Saya menyukai hujan yang memberikan saya nafas untuk merasa nyaman. Saya menyukai hujan karena ia membuat saya merasa bahagia, dengan segala paket indah yang diberikannya.
Hujan –> pelangi –> bau tanah basah –> hawa dingin —> kenyamanan.
Begitulah perjalanan hujan untuk saya, berupa paket lengkap yang pada akhirnya membuat saya merasa nyaman. Saya menyukai menulis di kala hujan. Melihat derasnya hujan di luar rumah, menatapi basahnya daun-daun, menikmati susu cokelat untuk mengurangi rasa dingin, membalut diri dengan selimut hangat. Aaaah yang seperti itu rasanya menyenangkan sekali. Nyaman banget!
Saya pernah melihat Anggun C Sasmi diwawancarai di televisi tentang apa yang ia rindukan dari Indonesia, dan ia menjawab bau tanah di kala hujan yang menurutnya hanya bisa didapat di Indonesia. Ya, bau tanah basah memang khas sekali, memberikan perasaan berbeda bagi saya ketika bau itu tercium, tertangkap hidung. Bau yang khas, bau yang terkadang saya rindukan jika hujan tidak kunjung datang. Wajar sekali Anggun C Sasmi merindukan bau tanah basah karena hal itu memang memiliki magis tersendiri, memiliki nyawa tersendiri yang ngangeni.
Tapi kadang hujan juga membuat saya kesal.
Saat dalam perjalanan dan tiba-tiba hujan turun, jelas itu membuat jengkel karena saya menjadi kebasahan, harus berteduh atau kalau mau nekat tetap jalan dan menerobos hujan. Untuk orang yang kemana-mana naik angkutan umum seperti saya, merupakan sebuah pengalaman yang kurang menyenangkan apabila hujan datang saat sedang dalam perjalanan. Hujan juga kerap membuat kesal apabila dia tidak bisa diajak berkawan, seperti kemarin contohnya, saat press conference Macabre, rencana awalnya acara akan dilangsungkan di bagian luar dari Ke’kun Cafe, semua sudah siap, panggung sudah dibuat, kursi + meja sudah rapih, banner sudah dipasang, sound system sudah beres, dan blasss! Tiba-tiba hujan datang. Jadilah acara kemudian dipindahkan ke dalam, rencana awal gagal total, langsung dirombal total dalam waktu yang cuma sepersekian menit.
Meski begitu saya tetap menyukai hujan. Wajar kalau terkadang hujan membuat kesal, tapi saya bisa berbuat apa? Datangnya hujan tidak bisa diprediksi, hanya Tuhan yang tau kapan dia datang, jadi bukan salah hujan kalau ia datang disaat yang tidak tepat buat saya.
Yang terpenting dari turunnya hujan adalah ia memberi saya banyak inspirasi. Ya. Rasa nyaman yang saya dapat membuat saya menjadi lebih sensitif dalam melatih intuisi, mendapatkan inspirasi untuk tulisan dan akhirnya bisa menulis dengan lancar, sambil tersenyum, merasakan kedamaian.
Saya berdoa hujan akan turun sering-sering, di malam hari saja cukup, saya meminta ditemani hujan dikala saya menulis, menyelesaikan plot untuk skenario yang bulan depan harus sudah selesai. Tapi saya juga meminta hujan untuk sedikit bersahabat, janganlah turun di tempat syuting Macabre, buatlah proses syuting menjadi lancar, tanpa gangguan karena tangisan dari langit.
Hujan. Malam ini datang lagi ya, temani saya malam ini
Dian Sastrowardoyo
Ini foto Dian Sastrowardoyo di halaman Semifinalis Gadis Sampul 1996 majalah Gadis. Dalam ajang tersebut Dian sukses melaju hingga ke final dan meraih predikat GADIS SAMPUL 1996
Terima kasih untuk Wodjo buat fotonya!
Alhamdulillah
Press conference Macabre berjalan sukses! yaaaaay! wartawan yang datang banyak dan acaranya juga sukses, walau sempat rada ribet karena hujan yang turun mendadak, tapi semuanya berjalan lancar. Besok jangan lupa tonton infotainment yaaa beritanya ada tuuh hehehehe. Cerita lengkap + foto-foto, next time yaa.
Gara-Gara Bola
Pemain : Herjunot Ali, Winky Wiryawan, Aida Nurmala, Amink, Tarzan, Otto Satrya Djauhari, Laura Basuki, Stanley, Ayu Dewi, Indra Herlambang, Farishad Latjuba, Roy Tobing.
Sutradara/Penulis : Agasyah Karim, Khalid Kashogi
Produser : Nia Dinata
Produksi : Happy Ending Pictures, Ezy Production, Nation Pictures
Gara-Gara Bola bercerita tentang sepasang sahabat, Heru (Herjunot Ali) dan Ahmad (Winky Wiryawan) yang harus mendapatkan uang sebesar dua puluh juta dalam semalam untuk melunasi hutang Ahmad ke bandar judi karena ia kalah dalam perjudian di pertandingan semi final piala dunia. Selain itu GGB juga menceritakan kehidupan Heru yang harus berkompromi dengan sifat ayahnya, Pak Bambang (Tarzan) yang suka ‘jajan’ di luar dengan memelihara perempuan nakal, salah satunya Mieke Asmara (Aida Nurmala), penyanyi rap-dangdut yang diangkat menjadi manager Bakmi Yona, salah satu usaha milik Pak Bambang dimana Heru bekerja di sana sebagai kasir.
Menyenangkan. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan film ini adalah menyenangkan. Terbahak. Tertawa. Terhibur. Intinya adalah satu : menyenangkan sekali untuk ditonton karena semua terlihat begitu ringan dan enak untuk diikuti. Cerita tentang Ahmad dan Heru yang harus berjuang mendapatkan dua puluh juta dalam sehari menarik untuk disimak, berjalan dengan wajar dan penuh spontanitas. Beberapa cerita pendukung yang terpapar dari para karakter pendukungnya mungkin akan menjadi sedikit membingungkan karena tidak terlalu dipaparkan dengan jelas, tapi kembali lagi film ini berhasil menuturkan ceritanya dengan ringan sehingga kesatuan ceritanya masih bisa disimak dengan baik.
Para pemain utamanya berakting maksimal. Herjunot Ali yang terakhir bermain bagus di Realita Cinta Dan Rock & Roll, kali ini kembali menunjukkan aktingnya yang maksimal, wajar dan terlihat natural. Winky Wiryawan juga begitu, sosok Ahmad yang (menurut saya) menyebalkan diperankan dengan pas dengan tampilan yang gak Winky banget karena penampilannya yang kucel dan berantakan. Aida Nurmala sebagai penyanyi rap-dangdut juga menunjukkan akting yang hidup, menyenangkan sekali melihat Aida dengan penampilan menor dan gaya dangdut banget -video klip yang ada di credit title sungguh amat menghibur dan Aida berhasil menghidupkan sang bintang, Mieke Asmara-. Otto Satrya Djauhari, Indra Herlambang, Farishad Latjuba, Amink juga bermain dengan baik. Yang tidak maksimal adalah pendatang baru Laura Basuki. Aktingnya masih kurang, terlihat kebanting dengan para pemain lainnya. Dan yang lebih menyebalkan lagi menurut saya tokoh Laura di sini tidak jauh berbeda dengan karakter Lila (Sandra Dewi) di film Quickie Express, cuma sebagai pemanis, tidak lebih.
Visualisasi film ini enak untuk dilihat. Beberapa selipan animasi semakin membuat tontonan ini menjadi tambah menyenangkan. Pengambilan gambar dan sinematografinya juga baik, meski set yang diambil cenderung disitu-situ saja dan tidak banyak mengambil tempat. Sisi komedi film ini berhasil menghibur, tapi ada beberapa yang gagal dan tidak ‘kena’, tapi hal itu tidak terlalu mempengaruhi keutuhan isi cerita karena film tetap bisa membuat kita tersenyum, merasa terhibur.
Sebagai sebuah tontonan, film ini menawarkan hiburan yang sangat menyenangkan, tersenyum dan tertawa tiada henti, bahkan hingga ke akhir bagian film -credit title- dimana kita disuguhi video klip dangdut rap dari Mieke Asmara yang sungguh bisa membuat kita puas tertawa.
7.8/10
Sedikit cerita
Sedikit perubahan di ide cerita untuk skenario yang sedang saya coba garap dan itu ternyata berdampak cukup banyak akan jalan ceritanya yang berarti saya harus memulainya lagi dari awal karena saya bukan tipikal orang yang mahir merevisi, takutnya kalo direvisi sana-sini malah jadinya aneh
Besok press conference Macabre, tugas saya mengumpulkan wartawan sudah beres, semoga saja besok acaranya berjalan lancar, wartawannya datang semua -fikiran negatif saya suka berfikiran para wartawan gak akan datang, dan acaranya bisa sukses. Amien
Oh ya selamat ulang tahun untuk Jane! Makin dewasa dan makin baik-baik ya! Semoga cepat dapat pacar baru
, bisa fokus belajar dan nanti lulus SMP dengan nilai memuaskan.
Begitulah, cukup sedikit cerita untuk hari ini. Lagi ribet euy!




