Sepi

Aku sedang duduk sendirian di tengah keramaian. Depanku sibuk. Kananku sibuk. Kiriku sibuk. Tidak ada yang sendiri. Hanya aku.

Aku menyeruput teh hijau hangat. Ini sudah gelas ketiga. Di atas meja ada sepiring kecil sushi, berisi enam potong yang kini tinggal tersisa tiga. Ada juga piring kosong yang tadinya terisi sayur-mayur yang kini telah mengisi rongga perutku.

Entah.
Senja ini, di tengah keramaian ini, aku merasa sendirian. Perasaanku tak nyaman. Telinga menangkap hingar bingar, tapi hatiku kosong. Senyap. Sepi. Tanpa bunyi.

Apa yang salah?
Aku pun tidak tahu. Seharian ini aku diliputi mendung, padahal cuaca sedang bersahabat. Mentari sedang cantik dan menyengat, namun gagal menularkan semangat.

Sepi.
Aku kembali merasakan itu. Kesepian yang entah kapan menjadi sering aku temui, yang entah sejak kapan menjadi tamu yang kerap mampir menemuiku. Aku suka sepi, tapi aku tidak suka kesepian.

Mungkin aku kesepian? Ah, masa’ sih? Mungkin aku yang sedang terlalu melankolis hingga menjadi mendramatisir? Ah, aku tidak tahu. Saat ini yang terasa hanya rongga di dada yang entah mengapa terasa sesak.

Jadi, aku kesepian?
Apa aku kesepian? Sejak kapan? Kenapa?

Ah, kini terlalu banyak tanya yang menari di kepalaku..

Adit

Aku mengenal Adit ketika bekerja di Trans Studio, tepatnya ketika aku ditugaskan ke Makassar.

Adit merupakan selebritis di Makassar. Di Trans Studio, ia merupakan performer kesayangan, kelas A, papan atas. Paras tampan, akting bagus dan kemampuan menari yang baik menjadikan Adit sebagai bintang.

Sebagai performer, Adit dan rekan-rekan lain di Trans Studio Makassar dituntut untuk bekerja keras. Latihan keras menghapal koreografi dan akting. Kerja ekstra keras dengan keringat membanjir agar pertunjukan belum maksimal. Dari banyaknya performer di Trans Studio, Adit merupakan salah satu yang terbaik. Kemampuannya menangkap apa yang aku mau (dari segi skenario) terwakili dengan baik olehnya. Dan lebih dari itu, ia juga cepat mengerti ketika diajarkan sesuatu hingga proses belajar pun berjalan dengan lebih cepat.

Adit ini makannya banyaaaaaaaaaak banget.
Asli, aku gak ngerti lagi kenapa dia bisa makan sebanyak itu dan badannya tetap bagus, dunia sungguh tidak adil! #drama. Oh, satu kata yang tepat untuk menggambarkan Adit adalah: bersahabat. Adit sangat ramah terhadap siapa saja dan mampu beradaptasi dengan sangat baik, kepribadiannya hangat dan ia pun merupakan teman yang menyenangkan.

Salah seorang teman di Jakarta sempat berniat ‘menjual’ Adit di Jakarta dan mengajak Adit untuk ikut casting, sayangnya karena logat Makassar yang masih terlalu kental, Adit tidak lolos. Mungkin, belum rejeki. Meski begitu, harus aku akui, Adit memiliki paket lengkap untuk bersinar. Kini tinggal menunggu waktu, kapan ia akan berkilau.

Vanya

Aku Cinta Detikcom memperkenalkan aku dengan 59 petualang lain.
Salah satunya perempuan berusia 20 tahun bernama Vanya Safitri yang menjadi rekanku, yang menjadi teman berpetualang selama 20 hari.

Vanya bukan gadis biasa.
Ada keunikan yang aku temukan pada perempuan berperawakan kecil mungil berwajah manis ini. Pertemuan pertama kami terjadi ketika briefing Aku Cinta Indonesia, di mana Vanya datang telat karena harus mengikuti acara kampus dulu. Pada pertemuan pertama aku melihat sekilas bahwa Vanya merupakan perempuan manis yang lucu.

Tapi ternyata, penilaianku salah.
Perjalanan selama 20 hari mengubah persepsiku terhadap Vanya. Di balik paras manis dan perawakannya yang mungil, tersembunyi energi yang sangat besar.

Vanya sangat bersemangat. 20 hari bersamanya membuatku tau bahwa energinya begitu besar untuk mengeksplorasi Jawa Timur dan Bali. Ada tenaga dan energi positif yang terus memayungi langkah Vanya, yang membuat dirinya seakan tidak pernah lelah untuk terus menjelajah. Ketika titik lelah itu datang, Vanya pun menjadi manusia biasa yang pelor (asli, dia gampang banget tidur) dan susaaaaaah banget buat dibangunin haha. Tapi setelah nyawa terkumpul, Vanya akan kembali menantang dunia.

Simple.
Satu kata itu bisa membungkus profil Vanya. Perjalanan 20 hari dijalaninya dengan sangat simpel. Perlengkapan seadanya. Peralatan seadanya. Dan bahkan Vanya tidak bawa uang sama sekali. Karena keterbatasan itu, ia menjalani hari-hari dengan sangat simpel dan teratur. Di tengah perjalanan, Vanya menceritakan dari mana kebiasaan itu berasal: dari orang tuanya yang sejak kecil membiasakan dirinya hemat dan ‘berjuang’ untuk mendapatkan sesuatu. Cool. Vanya sangat menikmati kesederhanaan, ketika menemukan sesuatu yang menurutnya berlebihan, ia pun bisa menjadi bete. Aku ingat ketika ia kesal berada di tengah Ubud yang senja itu hiruk pikuk dan penuh dengan bule hihi. Oh ya, Vanya ini tidak menggunakan Blackberry, ia cinta mati dengan Nokia kesayangannya yang telah ia pakai semenjak SMP. Selama petualangan ACI, Vanya selalu kegirangan ketika melihat saya dan Dwi (satu rekan lain) yang selalu misah-misuh tiap kali BlackBerry kami kehabisan baterai.

Vanya kuliah di Unpad. Vanya pun juga kuliah di ISI, mengambil jurusan Seni Karawitan. Ya. Vanya ini seniman. Selama perjalanan ACI, Vanya sangat tertarik mengeksplorasi kesenian tanah air, salah satunya kesenian gamelan yang di tiap daerah berupaya ia tekuni dan eksplor. Kemampuan bermusiknya luar biasa! Salut dengan pilihan Vanya untuk kuliah di Karawitan dan menjadi salah satu pemudi yang terus berjuang melestarikan kesenian tanah air.

Berpetualang dan mengenal Vanya menjadi salah satu pengalaman yang tidak akan pernah aku lupakan. Neng, kapan lagi kita dangdutan? :D

Echa

Namanya Aqessa.
Nama yang lucu ya. Lucu sekali namanya. Sampai kini aku beranggapan bahwa Aqessa merupakan salah satu nama lucu yang pernah aku dengar. Cukup panggil Aqessa dengan panggilan Echa dan dia pun akan menoleh.

Sejujurnya, aku lupa kapan pertama kali mengenal Echa. Cha, lo ingat gak kapan pertama kali kita kenal? Dari mana? Friendster atau blog ya? Kalau tidak salah dari blog. Kalau tidak salah aku mengenali Echa dari majalah Kaleidoscope Online ya?

Echa ini dulu memanggilku dengan panggilan ‘Kak Haqi’, sopan sekali memang tapi lama-lama dia menjadi kurang ajar dengan menghilangkan kata Kak dengan memanggilku dengan nama saja *halah*. Lagian rajin amat manggil kakak segala, beda umur juga gak jauh yaa hehe.

Nah, kita pertama kali ketemu kapan Cha? Kalau tidak salah di Gramedia, Pondok Indah Mall 1, ketika acara peluncuran novel Sitta Karina: Putri Hujan dan Ksatria Malam. Betul kan? Pada waktu itu aku melihat Echa yang kurus dan pucat seperti sedang sakit, tapi dengan ceria dia menjawab bahwa ia tidak apa-apa.

Echa ini kurus maksimal.
Entah mengapa sejaka pertama kali bertemu sampai sekarang perubaha ukuran badannya tidak pernah ekstrem. Bandingkan dengan aku yang dulu kurus – gendut – kurus banget – dan sekarang babon. Sekilas tidak terlalu banyak perubahan dari Echa dulu dan Echa sekarang, dari segi fisik tidak terlalu banyak, masih kurus-kurus model gimanaaa gitu *yaa beda di tinggi aja sih ya Cha #plak.

Dari segi fisik memang tidak jauh berubah, tapi dari segi pembawaan Echa berubah. Dulu Echa ini seperti ABG yang malu-malu gitu, innocent berat, tapi lama-lama, seiring dengan sering ketemu ketahuan deh kalau Echa juga suka ngobrol, bahkan Echa pernah membuka topik tentang penjualan pewarna pink untuk puting perempuan dengan brand bernama Dodora yang ia lihat di Facebook. Asli, topik Dodora ini tidak akan pernah aku lupakan!

Echa juga pernah membuat sensasi tersendiri di twitter ketika ia menggunakan tagar #LebaySehari dan seharian ia benar-benar menjadi perempuan lebay. Konyol, dramatis, seru dan bikin ngakak! Di balik muka kalemnya, Echa menyimpan bakat melucu juga ternyata.

Echa ini punya pacar namanya Raka.
Aku tidak terlalu mengenal Raka dan tidak terlalu banyak tau tentang hubungan mereka. Tapi sekilas yang aku lihat, mereka terlihat cocok. Raka yang besar melindungi Echa yang mungil. Dari tulisan Echa di twitter dan di blog pun terbaca bahwa hubungan mereka berjalan menyenangkan. Semoga saja segalanya lancar-lancar hingga jenjang berikutnya ya Cha ;)

Eddy!

Namanya Muhammad Zaidy.
Aku pertama kali mengenal Mas Eddy (yang biasa aku sapa dengan nama Mas Ed) di Trans Studio, pada saat aku bergabung dengan perusahaan itu sebagai tim creative di Februari 2010.

Satu kata yang membungkus diri Mas Ed adalah: gaul.
Sesungguhnya, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang lebih gaul dibandingkan seorang Al Zaidy! Bahkan di kantor pun dia dikenal dengan nama Eddy gaul! Serius, Mas Ed memang segaul itu. Aku pernah ke mall bersama dia dan hampir setiap 5 meter sekali ada orang yang dikenalnya. Luarrr biasa. Saking gaulnya, Mas Ed ini sempat aku liat beberapa kali di halaman majalah lifestyle lho. Eksis berat!

Selain gaul, Mas Ed juga stylish.
Sepertinya dia menjadi lelaki paling stylish yang pernah aku kenal. Karena dari hari Senin – Kamis di kantor pakai seragam, Mas Ed menjadikan hari Jumat sebagai hari spesial yang digunakannya untuk tampil gaya. Di hari Jumat, Mas Ed tidak pernah tampil biasa, ia selalu tampil heboh. Aku pernah kebingungan dengan kemeja yang ia pakai karena kemeja itu memiliki bentuk dan struktur yang absurd, tapi karena yang pakai Mas Ed ya cocok-cocok aja sih ya. Sehubungan dengan dirinya yang stylish, Mas Ed bahkan sempat pulang ke rumah lagi untuk berganti pakaian ketika pada hari Jumat dia malah ke kantor pake seragam. Niat abis yaa. Oh ya, Mas Ed punya bisnis clothing line lho, nah desain baju-baju di clothing line-nya itu semacam gambaran dari gaya sehari-hari dia.

Mas Ed merupakan pribadi yang atraktif.
Sumpah mati, kelakuan absurdnya sangat tidak mencerminkan usianya yang sudah matang haha. Mas Ed ini kalau ketawa heboh banget. Bicara pun selalu heboh! Dia punya kebiasaan ngomong sambil nunjuk-nunjuk muka orang –yang mana aku pernah berantem ama dia soal ini haha. Mas Ed juga gak bisa diam, kalau bercerita dia kadang suka mempraktekkan isi dari ceritanya –termasuk mempraktekkan bentuk tarian Sufi ketika aku, dia dan tim marketing sedang membicarakan masalah konsep. Kantor tidak pernah sepi kalau ada Mas Ed karena cara bicaranya, cara tertawanya dan keceriaannya yang selalu dibaginya pada siapa saja.

Kepribadian Mas Ed yang selalu optimis seringkali berseberangan dengan aku yang dinilainya pesimis. Aku ini menganggap diriku realistis sementara Mas Ed yang selalu punya konsep spektakuler menilai aku terlalu takut dan terlalu mikir yang aneh-aneh. Dengan caranya sendiri, Mas Ed membuat aku berani dan membuat percaya diriku meningkat.

Aku ingat sekali ketika dulu satu kantor, selalu ada drama antara aku, Mas Ed dan Mbak Dudung. Tapi pada akhirnya kita akan kembali akur dan makan-makan bareng. Ya, kami adalah trio penggila segala macam makanan. Bersama dua orang ini aku menggendut! Haha. Bahkan kami pernah ke bioskop karena ingin makan, bukan karena ingin menonton!

Saat ini Mas Ed sedang menempuh pendidikan movie producing di New York, sekali lagi New York, dan aku iri setengah mati dengan dia! Arrrrrrgggh asik banget kan bisa sekolah di New York, sekolah film pula! Aku mauuuuu! Enggak papa deh iri, akhirnya karena iri ini aku pun menjadi termotivasi untuk mengumpulkan banyak uang dan nantinya kuliah film di luar negeri juga, aamiin.

Mas Ed, salah satu manusia yang tidak akan pernah aku lupa.
Segala macam hal tentang orang satu ini selalu tidak biasa haha.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 33 other followers